Sabtu, 27 Juni 2015

KERAJAAN KALINGGA ABAD 6-7 MASEHI

Kalingga 
KALINGGA atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Peta kerajaan Kalingga

Pengaruh kerajaan kalingga sampai daerah selatan Jawa Tengah, terbukti diketemukannya prasasti Upit/Yupit yang diperkirakan pada abad 6-7 M. Disebutkan dalam prasasti tersebut pada wilayah Upit merupakan daerah perdikan yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Daerah perdikan Upit sekarang menjadi Ngupit. Kampung Ngupit adalah kampung yang berada di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti Upit/Yupit sekarang disimpan di kantor purbakala Jateng di Prambanan.

Kisah lokal
Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.

Carita Parahyangan
Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh.. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Ratu Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Fakta
Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.

Pengaruh Islam
Ada beberapa hal penting yang bertautan positif antara Kerajaan Kalingga yang bercorakkan Hindu Siwais dengan dunia Peradaban Islam, yaitu dalam sejarah[Islam pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M Khalifah Utsman bin Affan pernah mengirimkan utusanya ke Daratan Cina dengan misi mengenalkan Islam, waktu itu hanya berselang 20 tahun dari wafanya Rasulullah SAW dan utusan tersebut sebelum sampai tujuan bersinggah dulu di Nusantara. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan (644-657 M) juga pernah mengutus delegasinya bernama Muawiyah bin Abu Sufyan pernah mengirimkan utusanya ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Shima, putra Ratu Shima dari Kalingga, masuk Islam, kemudian kalangan bangsawan Jawa yang memeluk Islam adalah Rakeyan Sancang seorang Pangeran dari Tarumanegara, Rakeyan Sancang hidup pada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656-661) . Rakeyan Sancang diceritakan, pernah turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M). Kemudian yang tercatat dalam sejarah raja Sriwijaya yang masuk Islam adalah Sri Indravarman setelah kerusuhan Kanton meletus dimana banyak imigran muslim Cina masuk ke wilayah Sriwijaya yang terjadi pada Islam masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah).

Berita Cina
Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

Catatan dari zaman Dinasti Tang
Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.

Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.
Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.

Catatan I-Tsing
Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Peninggalan
Peninggalan Kerajaan Ho-ling adalah:

Candi
Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Candi Angin terdapat di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Candi Angin menyimpan teka-teki yang belum terpecahkan, siapa pendirinya dan pada zaman kapan.


Pendiri
Adanya Candi Angin dan Candi Bubrah karena Resi Wigoyotoso datang ke Desa Tempur lalu membuat candi, candinya ini terbentuk sendiri jadi batunya datang sendiri dan membentuk sendiri menjadi sebuah candi.

Etimologi
Bagi para ahli spiritual saat datang di candi angin bisa melihat ada sebuah pusaran angin di lubang Candi Angin sehingga dinamakan candi angin.

LokasiLegenda Candi angin berkembang di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.

Sejarah
Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua dari pada Candi Borobudur, Candi Angin di sinyalir adalah peninggalan Kerajaan Kalingga. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha.

CANDI BUBRAH

Candi Bubrah
Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Prasasti
Prasasti Tukmas

Prasasti Tuk Mas (harafiah berarti "mata air emas") adalah sebuah prasasti yang dipahatkan pada batu alam besar yang berdiri di dekat suatu mata air, yang ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang.Prasasti Tuk Mas dipahat dengan aksara Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta. Bentuk aksaranya lebih muda daripada aksara masa Purnawarman, dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-6 hingga abad ke-7 M.

Aksara prasasti ini sudah banyak yang rusak. Namun bagian yang masih dapat dibaca antara lain menyebutkan adanya sebuah sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga di India.Pada prasasti ini terdapat pula lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, dan bunga tunjung.

Teks prasasti
Berikut alih aksara teks prasasti menurut Drs. Boechari:

kwacit parwwatasānujātā
kwacic chilawaluka nirggateyam
kwacit prakirņna śubhasitatoya sam-
prasutam — .. — waganga
Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

Prasasti Upit (disimpan di Kantor/Dinas Purbakala Jateng di Prambanan Klaten)
Kampung Ngupit merupakan daerah perdikan, yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Ngupit terletak di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti tersebut semula dijadikan alas/bancik padasan tempat untuk wudlu' di Masjid Sogaten, Desa Ngawen. Dan sejak tahun 1992 sudah disimpan di Kantor Purbakala Jawa tengah di Prambanan.

KEMUNGKINAN LAIN TENTANG KERAJAAN KALINGGA LIHAT PETA WILAYAH KERAJAAN KEDIRI YANG MENCAKUP SELURUH WILAYAH JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR 

BERITA LAIN TENTANG KERAJAAN KALINGGA.
BHUMI KEDIRI BHUMI YANG DIPILIH PARA AVATARA WISNU YANG MENITIS KEDUNIA DARI ZAMAN KE ZAMAN ,INILAH MENGAPA KEDIRI DIPILIH MENJADI IBU KOTA KERAJAAN OLEH SEMUA TITISAN BATARA WISNU,,LIHAT SEJARAHNYA..Abad Ke V KADHIRI Atau KEDIRI Adalah IBUKOTA Kerajaan KELING (KALINGGA) YANG ADA DI JAWA.Lokasinya Di KELING KEPUNG KEDIRI DI KAKI GUNUNG KELUD (SEKARANG ADALAH WILAYAH JAWA TIMUR),Tercatat Raja Yang Berkuasa Adalah :

1.PRABU WASUMURTI  594 M- 605 M,Memerintah KERAJAAN KELING /KALINGGA DI KELING KEPUNG KEDIRI Selama 11 Tahun.SEDANGKAN KERAJAAN KALINGGA DI INDIA DIPERINTAH OLEH RAJA BHANU NARASHIMA Selama 39 Th (580 M-619).RAJA BHANU NARASHIMA BERBESAN DENGAN PRABU WASUMURTI,YAITU PERKAWINAN ANTARA RAJA SANTANU (KIRATHA SINGHA) PUTRA PRABU BHANU NARASHIMA RAJA KALINGGA DI INDIA,.DENGAN DEWI WASUNDARI PUTRI PRABU WASUMURTI RAJA KELING/KALINGGA DI DAHA KEDIRI(KELING KEPUNG KEDIRI),

2.PRABU WASUGENI RAJA KELING/KALINGGA DI DAHA KEDIRI(KELING KEPUNG KEDIRI),605 M-632 M,Memerintah Selama 27 th,Beristri Dewi Paramitha Dari Kerajaan PALAWA Di INDIA.Dan Berputra PRABU WASUDEWA,

3.PRABU WASUDEWA  RAJA KELING/KALINGGA DI DAHA KEDIRI(KELING KEPUNG KEDIRI),632 M-652 M,Memerintah Selama 20 Tahun,

4.PRABU WASUKAWI RAJA KELING/KALINGGA DI DAHA KEDIRI(KELING KEPUNG KEDIRI),652 M,

5.PRABU KIRATHA SINGHA (PUTRA RAJA BHANU NARASHIMA RAJA KALINGGA DI INDIA)YANG BERISTRIKAN DEWI WASUWARI PUTRI RAJA WASUMURTI DARI KERAJAAN KELING/KALINGGA DI (KELING KEPUNG KEDIRI),BERPINDAH DARI KERAJAAN KALINGGA DI INDIA,KARNA IA TELAH DI ANGKAT MENJADI RAJA KALINGGA DI INDIA MENGGANTIKAN AYAHNYA YAITU RAJA BHANU NARASHIMA ,IA BERKUASA DI INDIA SELAMA 13 TH DI INDI DARI TH 619M-632 M,KEMUDIAN IA PINDAH KE JAWA MENJADI RAJA DI JAWA YAITU DI  KERAJAAN KELING/KALINGGA DI (KELING KEPUNG KEDIRI),BERKUASA SELAMA 16 TAHUN 632 M-648 M,

6.PRABU KARTIKEYA SINGHA /SANG MOKTENG MAHAMERWACALA KEMUDIAN MENJADI RAJA DI KERAJAAN KELING /KALINGGA DIDAHA KEDIRI MEMERINTAH SELAMA 26 TAHUN YAITU DARI TH 648 M-674 M,IA JUGA MERUPAKAN KEPONAKAN DARI RAJA PENDETA PENDIRI KERAJAAN SRIWIJAYA YAITU DAPUNTA HYANG YANG MENDIRIKAN KERAJAAN SRIWIJAYA TH 669 M-692 M,DAPUNTA HYANG MENIKAH DENGAN PUTRI SOBAKANCANA PUTRI PRABU LINGGAWARMAN RAJA TARUMANAGARA TERAHIR YANG BERKUASA TH 666 M-669 M.DAPUNTA HYANG YANG KELAK MENURUNKAN DARMAPUTRA RAJA SRIWIJAYA.YANG BERKUASA TAHUN 692 M-704 M.DAPUNTA HYANG PENDIRI KERAJAAN SRI WIJAYA JUGA PERNAH MELAMAR MAHARANI SIMA (JANDA RAJA KARTIKEYA SINGHA RAJA KALINGGA DI KELING KEPUNG KEDIRI).TAPI LAMARAN ITU DI TOLAK HINGGA HAMPIR MENIMBULKAN PEPERANGAN ANTARA SRI WIJAYA DAN KALINGGA,NAMUN DI LERAI OLEH SAUDARA DAPUNTA HYANG YAIU TARUSBAWA (RAJA SUNDA KE I TH 669-723 M)PENDIRI KERAJAAN SUNDA YANG JUGA MENANTU PRABU LINGGAWARMAN RAJA TARUMANAGARA TERAHIR,DAN AHIRNYA PEPERANGANPUN DAPAT DI HINDARI. ,KARTIKEYA SINGHA /SANG MOKTENG MAHAMERWACALA (SAYAILENDRA )Mempunyai Dua Orang Istri yang Pertama Adalah DEWANILOKA PUTRI DARI KERAJAAN KALINGGA DI INDIA,YANG KEMUDIAN BERPUTRA BHUSWARA YANG MENJADI RAJA KALINGGA DI INDIA TAHUN 632 M-658 M).Istri kedua yaitu MAHARANI SIMA CUCU PRABU WASUGENI RAJA KALINGGA KE DUA DI KELING KEPUNG KEDIRI.DARI MAHARANI SIMA LAHIRLAH DUA ORANG ANAK YAITU RANI DEWI PARWATI (YANG MENURUNKAN DINASTI SANJAYA)DAN RAKRYAN NARAYANA(YANG MENURUNKAN RAJA RAJA KANJURUHAN DEWA SINGHA,DAN GAJAYANA.) 


Kemudian Pada Masa Pemerintahan MAHARANI SHIMA 674 M-695 M ,Pusat Kerajaan KALINGGA Di Pindah ke Sekitar Jepara  Pasca Kematian Raja Kartikeya Singha Suami MAHARANI SHIMA,,Kemudian KERAJAAN KALINGGA DI Bagi Dua ,Yaitu 

1.KALINGGA UTARA (BHUMI MATARAM/MEDHANG) DI Berikan Kepada RANI DEWI PARWATI (Putri ke satu)Yang Kelak Menikah Dengan MANDIMINYAK (RAJA GALUH KE II PUTRA RAJA WRETI KANDAYUN RAJA GALUH KE I),Dan Dari Perkawinannya ini Kelak Menurunkan DINASTI SANJAYA .Dan 

2.KALINGGA SELATAN (BHUMI SAMBHARA/KELING) Yang DiBerikan Kepada Adik Laki Laki RANI DEWI PARWATI Yaitu RAKRYAN NARAYANA Yang Kelak Menurunkan Raja Raja Kanjuruhan Yaitu DEWA SHINGA Yang Menurunkan GAJAYANA,

1 komentar:

  1. HATI ITU SUCI BAGAI SAMUDRA BIRU...APAPUN SAMPAH DAN KOTORAN YANG DI LEMPAR KE SAMUDRA AKAN SELALU DIKEMBALIKAN OLEH OMBAK MENUJU PANTAI.

    BalasHapus