Kamis, 14 Desember 2017

RUMAH ADAT JAWA

RUMAH ADAT JAWA (JOGLO PANGGUNG)

Pada Dasarnya Rumah Adat Jawa Itu Adalah Rumah Panggung ,karna Menggunakan Umpak.(Batu untuk menyangga tiang tiang) /Rumah Adat Joglo panggung.Gambar di bawah ini adalah Contoh Rumah Adat jawa yang masih Menggunakan umpak.joglo Panggung.


masih menggunkan umpak.batu untuk menyangga tiang tiang.Rumah adat jawa yang menggunakan umpak ini masih banyak ditemui di jawa timur ,jawa tengah,dan jawa barat.
 Joglo Panggung Jawa
 Joglo Panggung Jawa
Joglo Panggung Jawa

lalu kemudian pada perkembangannya seiring kemajuanzaman modern,umpak tersebut di jadikan ubin atau lantai dasar seperti contoh rumah dibawah ini.



 fungsi umpak sudah digantikan menjadi lantai dasar seperti gambar dibawah ini











Minggu, 26 November 2017

SITUS GUNUNG PADANG DAN NASKAH KIDUNG SUNDA

SITUS GUNUNG PADANG DAN NASKAH KIDUNG SUNDA

MUNCULNYA SITUS GUNUNG PADANG Menjadikan Perdebatan seru Antara SUNDA -JAWA Di Youtube Dan Ini sangat Memprihatinkan.Gara Gara Banyak Generasi Sunda Yang Membaca Naskah KIDUNG SUNDA yang Mengisahkan PERANG BUBAT Antara MAJAPAHIT DI ZAMAN PRABU HAYAM WURUK Dengan MAHA PATIHNYA YAITU GAJAH MADA,Dan Peristiwa Terbunuhnya SRI BADUGA RAJA Saat DYAH PITALOKA Akan Dipersunting Oleh Prabu HAYAM WURUK.
Kisah di Dalam Kidung Sundayana itu Sangat TRAGIS...Hingga Sampai Saat Ini Menimbulkan Dendam Kesumat dan sakit hati yang Tiada Tara Para Genersai Sunda Kepada Orang Jawa.(Sangat Memprihatinkan Gara gara Ulah Kolonial Belanda (Dengan Politik Adu Domba Yang Menghasut SUNDA DAN JAWA JADI BERMUSUHAN Hingga Saat Ini.

KIDUNG SUNDA (ADALAH KEBOHONGAN SEJARAH YANG DICIPTAKAN PENJAJAH BELANDA https://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda
NASKAH KIDUNG SUNDA DI TEMUKAN DI BALI OLEH C,C BERG TH 1927.Dan Diragukan Kebenarannya Karna Tidak Di Ketahui Nama Pengarang Kitab Tersebut dan kapan kitab tersebut di tulis

Perang Bubat
Pertama saya tertarik dengan kalimat di wikipedia “Perang Bubat adalah PERANG yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja MAJAPAHIT“. Bermula dari pertanyaan mengapa ada kata kemungkinan disitu? Satu hal yang pasti adalah terjadinya perang Bubat itu masih diragukan.
Secara pengetahuan umum hampir semua tahu perang ini, yaitu saat Baginda Raja Hayam Wuruk ingin memperistri Putri Sunda Dyah Pitaloka. Namun ketika berada di Bubat mereka dipaksa oleh Gajah Mada agar pernikahan itu bentuk takluknya Kerajaan Sunda terhadap Majapahit. Dan di perang itu semua tentara kerajaan Sunda meninggal tak bersisa termasuk Dyah Pitaloka yang bunuh diri.
Perang ini terjadi pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Dimana catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahitdan Sunda.  Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma,  raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalamPustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Berikut hal-hal yang membuat peristiwa Bubat ini layak dipertanyakan :
  • Kidung Sunda/Sundayana Sebagai Sumber Informasi Utama
Kidung ini berasal dari Bali dengan bahasa Jawa Pertengahan, Kidung ini ditemukan beberapa versi oleh seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C. Berg, Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya yaitu kidung Sunda dan Kidung Sundayana, dimana kidung Sunda lebih panjang syairnya.(wikipedia)
Disini saya sudah mulai curiga, kidung sunda/sundayana yang menjadi referensi utama dari Perang Bubat ini ditemukan oleh seorang Belanda dan pengarang kidung Sundayana ini adalah Anonim. Jadi, dari proses asal-uslnya saja kidung Sunda ini sudah dipertanyakan. Walaupun saya juga masih belum bisa melacak bagaimana proses profesor ini menemukan kidung ini, apakah mencari-cari di perpustakaan Bali, atau dari mulut ke mulut, entahlah. Yang pasti kidung ini pertama kali ditemukan oleh beliau dan tidak diketahui siapa pengarangnya. Dan anehnya lagi kidung ini berada di Bali bukan di Jawa yang notabene disitulah tempat Majapahit dan Perang Bubat ini terjadi. Jadi, berdasar prasangka pribadi dan logika saya Belanda bermain dibalik keberadaan kidung Sunda/Sundayana ini. Seperti halnya kasus perang Aceh yang baru berhasil dimenangkan Belanda setelah ada penyusupan orang  Belanda yang menjadi ulama dan pemecah belah disana. Dan hal terpenting dari kidung ini adalah suatu karya seni bukan suatu karya sejarah seperti Negarakertagama.
  • Isi dari kidung Sundayana
Berikut ringkasan dari Kidung Sunda (source : wikipedia)

Pupuh I

Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.
Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya.
Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.
Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.
Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)
Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong seorang raja berstatus raja vazal seperti Raja Sunda. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.
Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.
Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. Maka berpulanglah utusan raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari.
Sementara raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia berlaku seperti layaknya seorang vazal. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.
Kemudian raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

[sunting] Pupuh II (Durma)

Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan perang tidak dapat dihindarkan.
Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.
Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada ratu dan putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian bunuh diri. Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

[sunting] Pupuh III (Sinom)

Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran putri Sunda. Tetapi putri Sunda sudah tewas. Maka prabu Hayam Wurukpun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.
Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula prabu Hayam Wuruk yang merana.
Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).
Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip “Siwa dan Buddha” berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.
Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tsb. ditulis di Jawa atau di Bali.Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.
Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, ratu/permaisuri, dan putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya. 
  • Tidak tertulis di Negarakertagama
Disini juga ada keanehan karena peristiwa bubat ini tidak tertulis dalam negarakertagama yang notabene ditulis oleh empu Prapanca sekitar tahun 1365 (satu tahun sepeninggal Gajah Mada). Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar sekaliber Perang Bubat dan belum lama terjadi tidak tercatat dalam kitab itu. Hanya disebutkan bahwa desa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.
Motif sebenarnya dari “Sejarah Perang Bubat”
Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan besar,
Apakah benar perang tersebut pernah terjadi?

Sebuah pertanyaan yang mirip dengan statement presiden Iran Ahmaddinejad yang meragukan peristiwa Holocaust oleh Nazi kepada bangsa Yahudi..!!
https://id.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda

SITUS GUNUNG PADANG
Munculnya Situs Gunung Padang Sedikitnya Membuat Bangga Generasi Sunda,Karna Situs Ini Di Temukan Di Wilayah Jawa barat Yaitu GUNUNG PADANG CIANJUR.Ketika Diadakan penelitian Ternyata Usia Situs ini Berusia 10.000-25,000 Th.dan Ketika Penemuan Dan Pernyataan Ini Di Unggah Di Youtube ,Banyak Komentar Antar Generasi SUNDA -JAWA Yang Bisa Menjurus Kepada Perpecahan Dan Perang antar suku Jika Tidak Segera Di Temukan Solusi Diantara Pemahaman Sejarah Yang Diyakini Kedua  Generasai tersebut,
Mengingat ,Hal Tewrsebut ,Kami Akan Sedikit Membuka Sejarah Nusantara dari Cuplik An Serat PUSTAKA RAJA PURWA.Agar kedua Generasi SUNDA -JAWA Dapat berdamai dan Kembali Hidup Berdampingan SILIH ASAH ,SILIH ASIH ,SILIH ASUH,DAN AHIRNYA SILIH WANGI.

SITUS GUNUNG PADANG Di Cianjur Jawa Barat YANG BERUSIA 25,000.TAHUN(23,000 SM) itu Peninggalan Kerajaan Apa Ya.......Sebutan SUNDA LAND/SUNDA ISLAND (ITU ADALAH BAHASA ASING YANG DIPAKAI PARA PENJAJAH EROPA YANG DATANG KE NUSANTARA INI.Tetapi PULAU JAWA (JAWADWIPA)SUDAH TERSEBUT DI DALAM KITAB KITAB PUSTAKA RAJA PURWA SEJAK ZAMAN KERAJAAN KEDIRI 10 ABAD YANG SILAM.JAWA ADALAH SEBUAH KAUM YANG DIMAKSUD ADALAH KAUM JAWATA (KETURUNAN JAWATA/SANG HYANG/DEWA)...Selebihnya Yang Lebih Tua Lagi Adalah Bukti Penemuan Fosil manusia Purba Yng Berusia 2 juta th .di sangiran,wajak,mojokerto,trinil pacitan,ngandong,tulung agung dll.?. Menurut Kitab PUSTAKA RAJA.PURWA (GUBAHAN R,NGABEHI RANGGA WARSITA, DARI RAJA KEDIRI ,SRI AJI JAYABAYA).Kerajaan Pertama DI Dunia Bernama KUSNIA MALEBARI ,Yang Menjadi Raja Adalah NABI ADAM AS,(SYANG HYANG ADAMA/SANG HYANG JANMA WALIJAYA) Kemudian Kerajaan ADAM Ini Di Wariskan Kepada Putranya Yang Bernama SAYIDINA KANIRARAS.Sedangkan Putra NABI ADAM Yang Lain Adalah NABI SIS AS(SYANG HYANG SYTA) Yang Menurunkan RAJA RAJA NUSANTARA ,Kerajaan NUSANTARA Yang Pertama Adalah DIPULAU JAWA(Pulau Panjang Yang Membentang DariI Sumatra Hingga BALI ,Saat Itu Masih Satu Daratan),,Tepatnya DiPuncak ARGODUMILAH GUNUNG MAHENDRA (G ,LAWU /Sekarang Perbatasan JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR),Nama Kerajaanya Adalah KAHYANGAN ARGADUMILAH Yang MenjadiI MAHARAJA Adalah BATARA GURU.(SRI PADUKA MAHADEWA BUDA).Putra SANG HYANG TUNGGAL ,Putra SANG HYANG WENANG,Putra SANG HYANG NURASA,Putra SANG HYANG NUR CAHYA,Putra SANG HAYANG SYTA(NABI SIS) Putra ADAM.Ribuan Tahun Yang Lalu Sebelum Ada-Nya Tahun Masehi.Kemudian KERAJAAN Itu Berganti Nama Menjadi KERAJAAN MEDHANG KAMULAN..Yang Artinya CAHAYA PERMULAAN.,Peninggalan KERAJAAN Ini Selaras Dengan Banyak Bukti Yang Di Temukan Di Sekitar Wilayah Itu ,Yaitu FOSIL MANUSIA PURBA Dan BINATANG PURBA Di Sekitar Kaki GUNUNG LAWU Para Ahli Sejarah PURBAKALA Sepakat Bahwa Manusia JAWA Adalah Manusia Tertua Di DUNIA Ini,Sebelum Ada Penemuan Bukti Yang Mematahkan Bukti Bukti Yang Ada Sekarang ,Menandakan Ada Peradaban KUNO Di JAWA 2 Juta Tahun Yang Lalu, Meganthropus palaeojavanicus,Penduduk Asli JAWA Adalah Kaum JAWATA(KETURUNAN DEWA/SANG HYANG).Inilah Yang Disebut Asli Orang JAWA.(Keturunan Sayid Anwar bin Sis As) Sedangkan Orang Orang Yang Dibawa AJISAKA Kepulau JAWA Adalah 20.000 Orang Dari Negri RUM,Yang Kemudian Mati Semua,Hanya Tersisa 2O Orang,Yang Kemudian Pulang Kembali Ke NEGRI RUM ,EXPEDISI Ke PULAU JAWA Yang Kedua ,AJISAKA Membawa 20.OOO Orang Terdiri Dari Bangsa KELING,SIAM,Dan BENGGALA,Yang Kemudian Di Tambah Oleh BANGSA RUM Pada EXPEDISI Ke Tiga KEPULAU JAWA Atas Perintah RAJA OTTO Dari I RUM.Sehingga Kini Penduduk PULAU JAWA Terdiri Dari Berbagai RAS SUKU BANGSA..(Suku bangsa yang tersebut di atas adalah keturunan Sayid Anwas bin Sis as,) ,,DEWATA CENGKAR Bukanlah Raja Pertama KERAJAAN MEDANG KAMULAN Saat AJISAKA Tiba Di PULAU JAWA.. AJISAKA Adalah Pewaris Tahta KERAJAAN SURATI ,Ayahnya Bernama BATARA ANGGAJALI Putra EMPU RAMAYADI,Ibu AJI SAKA Bernama DEWI SAKA Putri PRABU SAKIL Dari KERAJAAN NAJRAN. AJISAKA Datang Ke PULAU JAWA Atas Utusan BATARA GURU (MANIKMAYA) Dan RAJA GALBAH Dari KERAJAAN RUM ,Kesimpulan-nya DEWATA CENGKAR maupun AJISAKA Bukan Manusia Pertama Yang Mengisi TANAH JAWA,,,Tetapi Jauh Sebelumnya Ada Yang Lebih Dahulu Menghuni PULAU JAWA....Yaitu Para JAWATA Dan SANG HYANG....ORANG JAWA Mengenal Leluhurnya Itu Dengan Sebutan SANG HYANG ADAMA/SANG HYANG JANMA WALIJAYA.....Sedangkan ORANG ARAB Dan TIMUR TENGAH Mengenal Dengan Sebutan NABI ADAM AS.. Menurut Kitab Pustaka raja Purwa Kerajaan Setelah Medhang kamulan di Gunung Mahendra , Adalah Kerajaan Di Sunda Banten Yang Pertama Adalah KERAJAAN MEDHANG GILI yang Menjadi Raja Adalah BATARA BRAMA Putra BATARA GURU,BATARA BRAMA Mendirikan Kerajaan Medang Gili Yang Kemudian Berganti nama menjadi Kerajaan Giling Wesi.BATARA BRAMA Adalah Raja Sunda Yang Pertama Bergelar SRI MAHA RAJA SUNDA Ibu Kota Kerajaanya di Puncak Gunung MAHERA BANTEN..DiZaman Yang Sama BATARA WISNU Mendirikan Kerajaan Di Gunung Gora (sekitar Tegal Jawa Tengah) Kerajaanya Bernama Kerajaan Medhang Pura,dan Batara Wisnu Bergelar SRI MAHA RAJA SUMAN,Dan Gunung Mahameru (jawa Timur) BATARA INDRA Mendirikan Kerajaan Bernama MEDHANG GHANA.Dan Bergelar SRI MAHA RAJA SAKRA.. Dari Keterangan Diatas dapat disimpulkan bahwa situs Gunung Padang di Jawa Barat ,Bukan Satu Satunya Situs Tertua.,karna Dilereng Gunung Lawu ada CANDI SUKUH(karang Anyar Yang Di Perkirakan Oleh Ahli Purbakala Yang Usianya Juga Sama Dengan Situs Gunung Padang..sedangkan di musuem trinil..ada fosil manusia jawa yang usianya 2jt th SM. BATARA BRAMA/SRIMAHA RAJA SUNDA Berbesan DeNGAN BATARA WISNU Yang Menurunkan Generasi ASLI SUNDA (PARA -HYANG-AN Dan ASLI JAWA.(JAWA-TA) LELUHUR JAWA DAN SUNDA SAMA SAMA DARI SANG HYANG ADAMA.YANG MENURUNKAN SANG HYANG SYTA (Nabi Sis ) Yang Menurunkan Sayid Anwar (SANG HYANG NURCAHYA).Jadi apa Yang harus Diributkan?

Rabu, 22 November 2017

KI AGENG NGALIMAN NGANJUK











#Telisik Makam Mbah Ngaliman 
----------------------------------------- 
Berdirinya sebuah negara atau daerah termasuk Nganjuk yang dikenal 
sebagai Bumi Anjuk Ladang, tentu tidak terlepas dari sejarah 
perjuangan masa lampau, para leluhur, atau nenek moyang yang telah 
babad alas, hingga tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini. 
Pada saat para wisatawan yang akan menikmati indahnya air terjun 
Sedudo, di dekat pintu gerbang obyek wisata akan menjumpai lokasi 
makam yang disebut makam Ki Ageng Ngaliman. Bagaimana sejarahnya ? 

Berdasarkan data dan informasi yang direkam oleh Tim Penelusuran 
Sejarah Ngaliman yang melibatkan berbagai nara sumber baik yang berada 
di daerah Ngliman antara lain : 
Mbah Iro Karto (sesepuh masyarakat), Drs. Sumarsono (Kades Ngliman) 
Parmo (Mantan Kades Ngliman) , Suprapto (mantan Kades Sidorejo), 
Imam Syafi'i (Juru Kunci Makam), Sumarno (Kamituwo), 
Sarni (Jogoboyo) maupun nara sumber yang berada diluar daerah Ngliman 
antara lain: 
Kyai Ahmad Suyuti (Ngetos), 
KH. Qolyubi (Keringan), 
KH. Moh. Huseini Ilyas (Karang Kedawang , Trowulan Mojokerto). 

KH. Moh. Huseini Ilyas ini merupakan salah satu keturanan Ki Ageng 
Ngaliman Gedong Kulon, maka tersusunlah tulisan seperti di bawah 
ini.Di Desa Ngliman terdapat dua makam yang sama-sama disebut Ki Ageng 
Ngaliman. Akan tetapi guna membedakan kedua makam tersebut maka 
digunakan sebutan : 

a. Makam Gedong Kulon ; 
b. Makam Gedong Wetan. 
Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon 
Ki Ageng Ngaliman dimakamkan di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan + 50 
Meter sebelah selatan Balai Desa Ngliman. Beliau dimakamkan 
bersama-sama dengan para sahabat dan pengikutnya. Dalam satu kompleks 
bangunan makam tersebut terdapat enam makam antara lain : 

a. Ki Ageng Ngaliman ; 
b. Pengeran Pati ; 
c. Pangeran Kembang Sore ; 
d. Pangeran Tejo Kusumo ; 
e. Pangeran Blumbang Segoro ; 
f. Pangeran Sumendhi. 

Menurut nara sumber dari Ngliman bahwa di pintu depan Makam Ki Ageng 
Ngaliman terdapat gambar bintang, kinjeng, ketonggeng, burung dan 
bunga teratai. Gambar-gambar tersebut kemungkinan menunjukkan makna 
tersendiri, namun sampai saat ini penulis belum bisa mengungkapkannya. 

Ki Ageng Ngaliman berasal dari Solo Jawa Tengah. Ketika Surakarta 
digempur oleh Belanda, maka oleh Nur Ngaliman yang pada waktu itu 
menjabat sebagai Senopati Keraton Surakarta dengan sebutan Senopati 
Suroyudo, Keraton Surakarta dikocor secara melingkar dengan air kendi. 
Akibat dari tindakan tersebut kendaraan pasukan Belanda luluh, waktu 
masuk keraton seperti masuk sarang angkrang, akhirnya beliau ditemui 
oleh Nabi Khidir agar menemui sanak saudaranya yang ada di Karang 
Kedawang Trowulan Mojokerto. 

Ki Ageng Ngaliman masih keturunan Arab dan mempunyai anak sebanyak 21 
orang. Keterangan ini diperoleh dari salah satu keturunan Ki Ageng 
Ngaliman yang bernama KH. Huseini Ilyas. Perang di Solo tersebut 
melibatkan kaum Cina yang dikenal dengan sebutan Perang Gianti pada 
sekitar tahun + 1720 M. (sumber : KH. Qolyubi). 

SILSILAH KI AGENG NGALIMAN menurut KH. Huseini Ilyas adalah : RONGGOWARSITO 
NUR FATAH 
NUR IBRAHIM 
SYEH YASIN SURAKARTA 
NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO ---MUSYIAH 
I L Y A S 
KH. HUSEINI ILYAS (TROWULAN MOJOKERTO) 

Perjalanan Hidupnya KH. Qolyubi tokoh ulama asal Kelurahan 
Mangundikaran itu berpendapat bahwa aktifitas yang dilakukan Ki Ageng 
Ngaliman adalah untuk mempersiapkan perjuangan melawan Belanda dengan 
diadakan pelatihan fisik dan mental yang bertempat di Padepokan yang 
sampai saat ini disebut Sedepok, dan di Sedudo yang letaknya di Puncak 
Gunung Wilis. Perjuangan tersebut ditujukan guna memerangi Pemerintah 
Belanda yang sedang ikut mengendalikan pemerintahan di Kasultanan 
Surakarta. 
Dasar pemikiran yang melatarbelakangi hijrahnya Ki Ageng Ngaliman dari 
Solo ke Nganjuk adalah karena Nganjuk merupakan wilayah Kasultanan 
Mataram sehingga juga berguna untuk menghindari kecurigaan maka Ki 
Ageng Ngaliman melatih prajuritnya menetap di daerah Nganjuk yang 
merupakan wilayah kasultanan Mataram. Sehingga terjadilah kepercayaan 
bahwa siapa saja yang menyebut nama Kyai Ageng Ngaliman akan mati 
dimakan binatang buas sebab memang beliau dirahasiakan namanya agar 
supaya tidak diketahui oleh Kasultanan Solo. 

Dalam perjalanan waktu menurut cerita bahwa desa Kuncir asal usulnya 
dari murid Ki Ageng Ngaliman yang meninggal dalam perjalanan di tempat 
tersebut, dia adalah seorang cina yang waktu itu cina memakai rambut 
yang dikuncir/dikepang sehingga tempat meninggalnya murid Ki Ageng 
Ngaliman tersebut di sebut Desa Kuncir. 
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ki Ageng 
Ngaliman merupakan seorang Kyai yang mempunyai keahlian nggembleng 
ulah kanuragan keprajuritan. Bagi masyarakat Ngliman, karomah yang 
dirasakan sampai saat ini adanya ketentraman dan kedamaian dalam 
kehidupannya. 

Mengingat Ki Ageng Ngaliman yang mempunyai keahlian neggembleng ulah 
kanuragan keprajuritan maka banyak pusaka yang ditinggalkannya. Ki 
Ageng Ngaliman masih mempunyai peninggalan berupa tanah di depan 
Masjid Ngaliman sehingga oleh perangkat dusun waktu itu tanah tersebut 
dibangun sebuah tempat yang disebut dengan Gedong Pusaka dan 
peninggalan pusakanya Ki Ageng Ngaliman di tempatkan di Gedong pusaka 
tersebut. Sebenarnya pusaka Ki Ageng Ngaliman cukup banyak tetapi ada 
yang dicuri orang sehingga yang ada di Gedong Pusaka saat ini hanya 
ada beberapa pusaka. 

Berdasarkan nara sumber dari Ngliman bahwa yang berada dan disimpan 
digedong pusoko antara lain : 
a. Kyai Srabat ; (Hilang tahun 1976) 
b. Nyai Endel ; (Hilang tahun 1976) 
c. Kyai Berjonggopati; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua) 
d. Kyai Trisula ; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua) 
e. Kyai Kembar 
f. Dalam bentuk Wayang antara lain : Eyang Bondan, Eyang Bethik, Eyang 
Jokotruno, Kyai Panji, dan Nyai Dukun 
g. Kamar 1 buah 
h. Kotak Wayang Kayu 1 buah 
i. Terbang 
j. Almari tempat pusaka 2 buah 
k. Tempat Plandean Tumbak 
Pada bulan Suro diadakan jamasan pusaka Ki Ageng Ngaliman dan dikirap 
mengelilingi Desa Ngliman. 

Air terjun yang ada di Ngliman sebenarnya banyak sekali antara lain : 
Sedudo, Segenting, Banyu Iber, Banyu Cagak, Banyu Selawe, Toyo Merto, 
Tirto Binayat, Banyu Pahit, Selanjar dan Singokromo.Sedangkan yang 
mudah dan bisa dikunjungi adalah Sedudo dan Singokromo. Sedangkan yang 
lainnya seperti Banyu Cagak, Banyu Selawe, Banyu Iber hanya bisa 
dikunjungi dengan jalan setapak. Adapun air yang paling besar adalah 
Air terjun Banyu Cagak. Menurut pendapat dari Bapak Sarni (Jogoboyo 
Ngliman) bahwa untuk pengembangan Wisata perlu dibangun kolam renang 
di Ganter dan dibuatkan perkemahan. 

Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan 
Makam Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan terletak di Desa Ngliman + 100 M 
ke arah timur dari Kantor Desa Ngliman. 
Mbah Iro Karto maupun KH. Qolyubi berpendapat bahwa Ki Ageng Ngaliman 
Gedong Wetan adalah keturunan dari Gresik. Menurut sejarah telah 
disepakati bahwa setiap pengangkatan Sultan yang dinobatkan terutama 
dari keturunan Demak harus mendapat restu dari keturunan Giri Gresik. 
Hal ini disebabkan karena sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, oleh wali 
9 yang diangkat menjadi Sultan adalah Kanjeng Sunan Giri. Setelah 100 
hari setengah riwayatnya 40 hari, kesultanan dihadiahkan kepada Raden 
Patah. 

Hal ini untuk menghindari citra bahwa Raden Patah merebut kekuasaan 
dari ayahnya sendiri. Dengan demikian setiap pergantian Sultan Demak 
yang menobatkan adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri. Setelah 
kasultanan Pajang runtuh, Sultan Hadiwijoyo pindah ke Mataram. Dengan 
kejadian ini terjadi silang pendapat didalam keluarga Giri. Diantara 
keluarga yang tidak setuju dan kalah suara menyingkir ke Ngliman dan 
menyebarkan agama Islam di Ngliman yang kemudian dimakamkan di Ngliman 
Gedong Wetan, Karena beliau lebih cenderung pada keturunan Demak Asli. 
Kemudian kepergian beliau ditelusuri oleh orang Demak asli bernama 
Dewi Kalimah yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Kebon Agung. 
Rentang waktu antara Ngaliman Gedong Wetan dengan Ngaliman Gedong 
Kulon terpaut waktu antara + 200 tahunan. Lebih tua Gedong Wetan. 
Setelah Ngaliman Gedong Wetan meninggal, keluarganya diboyong ke 
Kudus. 

Demikian hasil penelusuran sumber sejarah mengenai riwayat Ki Ageng 
Ngaliman yang dihimpun dari berbagai nara sumber mudah-mudahan dapat 
bermanfaat bagi pengembangan obyek wisata religius. Dasar pemikiran 
yang sangat sederhana ini mudah-mudahan ada gayung bersambut dari 
pihak-pihak terkait guna pengkajian yang lebih mendalam. 

Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 
1. Beliau yang dimakamkan di Ngaliman Gedong Kuolon berasal dari Solo 
Jawa Tengah dan masih keturunan Arab dan merupakan Senopati Perang 
Keraton Solo yang bernama Senopati Suroyudo. Perpindahan tersebut 
terjadi pada saat pergolakan Perang Gianti sekitar abad 17. 

2. Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon adalah Kyai yang ahli dalam hal 
penggemblengan ilmu kanuragan. Ini bisa di buktikan bahwa di Desa 
Ngaliman tidak ada Pondok Pesantren namun yang ada tempat peninggalan 
untuk latih keprajuritan dan beberapa pusaka. 

3. Beliau yang dimakamkan di Gedong Wetan berasal dari Gresik Jawa 
Timur sekitar abad 15 saat terjadi silang pendapat tentang penentuan 
orang yang menjabat sebagai raja di kerajaan Demak 

Kirab Pusoko 
------------------ 
Tempat atraksi wisata budaya berupa Kirab Pusoko dipusatkan di Gedung 
Pusoko Desa Ngliman Kecamatan Sawahan. Acara Kirab Pusoko digelar 
setiap bulan Maulud (dikaitkan dengan Bulan Kelahiran Nabi Muhamad, 
SAW), pada acara Kirab Pusoko ini selain acara yang sudah bersifat 
pakem, diisi pula pemeran produk unggulan penunjang dunia 
kepariwisataan. Dengan demikian nampak lebih semarak. 

Kirab pusaka biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 itu berawal dari 
Dukuhan Bruno berjalan berarak-arakan menuju Gedung Pusoko berjarak 
sekitar 2,5 km. Saat itu pula warga di masing-masing pedukuhan 
mengadakan selamatan, dengan suguhan jajanan pala kependem. Yaitu 
seperti ketela, ubi, garut, kacang tanah dan lain-lainnya. 
Pusoko yang dikirab berjumlah enam buah, sebagian banyak berupa wayang 
kayu. Kecuali Kyai Kembar yang berbentuk Cundrik Lar Bangao. Keenam 
pusaka itu ialah Kyai Bondan, Kyai Djoko Truno, Kyai Bethik, Kyai 
Kembar, dan Eyang Dukun serta Eyang Pandji. 

Masyarakat sekitar mempercayai bahwa pusaka-pusaka itu banyak membawa 
tuah diantaranya untuk keberhasilan dunia pertanian dan juga berkah 
kesehatan. Sebab, seperti dituturkan oleh Sang Juru Kunci Gedung 
Pusoko Ngalimin (65), konon ceritanya dulu kala ketika Desa Ngliman 
diserang wabah penyakit termasuk tanaman pertaniannya, Kyai Bondan dan 
Kyai Djoko Truno keliling desa dengan ditandai bunyi klintingan. " 
Karenanya, di daerah Ngliman dan sekitarnya, walaupun bayi dilarang 
mengenakan klinting" tambah mBah Ngalimin. 

Acara ini tidak ada kaitannya dengan agama., Bahkan, acara seperti itu 
bisa saling melengkapi kasanah budaya khususnya budaya jawa. Oleh 
karenanya, kedepan acara serupa bisa dikemas sebagai sebuah atraksi 
wisata budaya yang layak jual..... 

*Sumber : Putra Wilis http://joyodrono-cahmabung.blogspot.co.id/2017/01/menyusuri-sejarah-mbah-ngaliman-sedudo.html

#MbahNgaliman 
#sedudo 
#sawahan 
#Nganjuk