Rabu, 22 November 2017

KI AGENG NGALIMAN NGANJUK











#Telisik Makam Mbah Ngaliman 
----------------------------------------- 
Berdirinya sebuah negara atau daerah termasuk Nganjuk yang dikenal 
sebagai Bumi Anjuk Ladang, tentu tidak terlepas dari sejarah 
perjuangan masa lampau, para leluhur, atau nenek moyang yang telah 
babad alas, hingga tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini. 
Pada saat para wisatawan yang akan menikmati indahnya air terjun 
Sedudo, di dekat pintu gerbang obyek wisata akan menjumpai lokasi 
makam yang disebut makam Ki Ageng Ngaliman. Bagaimana sejarahnya ? 

Berdasarkan data dan informasi yang direkam oleh Tim Penelusuran 
Sejarah Ngaliman yang melibatkan berbagai nara sumber baik yang berada 
di daerah Ngliman antara lain : 
Mbah Iro Karto (sesepuh masyarakat), Drs. Sumarsono (Kades Ngliman) 
Parmo (Mantan Kades Ngliman) , Suprapto (mantan Kades Sidorejo), 
Imam Syafi'i (Juru Kunci Makam), Sumarno (Kamituwo), 
Sarni (Jogoboyo) maupun nara sumber yang berada diluar daerah Ngliman 
antara lain: 
Kyai Ahmad Suyuti (Ngetos), 
KH. Qolyubi (Keringan), 
KH. Moh. Huseini Ilyas (Karang Kedawang , Trowulan Mojokerto). 

KH. Moh. Huseini Ilyas ini merupakan salah satu keturanan Ki Ageng 
Ngaliman Gedong Kulon, maka tersusunlah tulisan seperti di bawah 
ini.Di Desa Ngliman terdapat dua makam yang sama-sama disebut Ki Ageng 
Ngaliman. Akan tetapi guna membedakan kedua makam tersebut maka 
digunakan sebutan : 

a. Makam Gedong Kulon ; 
b. Makam Gedong Wetan. 
Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon 
Ki Ageng Ngaliman dimakamkan di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan + 50 
Meter sebelah selatan Balai Desa Ngliman. Beliau dimakamkan 
bersama-sama dengan para sahabat dan pengikutnya. Dalam satu kompleks 
bangunan makam tersebut terdapat enam makam antara lain : 

a. Ki Ageng Ngaliman ; 
b. Pengeran Pati ; 
c. Pangeran Kembang Sore ; 
d. Pangeran Tejo Kusumo ; 
e. Pangeran Blumbang Segoro ; 
f. Pangeran Sumendhi. 

Menurut nara sumber dari Ngliman bahwa di pintu depan Makam Ki Ageng 
Ngaliman terdapat gambar bintang, kinjeng, ketonggeng, burung dan 
bunga teratai. Gambar-gambar tersebut kemungkinan menunjukkan makna 
tersendiri, namun sampai saat ini penulis belum bisa mengungkapkannya. 

Ki Ageng Ngaliman berasal dari Solo Jawa Tengah. Ketika Surakarta 
digempur oleh Belanda, maka oleh Nur Ngaliman yang pada waktu itu 
menjabat sebagai Senopati Keraton Surakarta dengan sebutan Senopati 
Suroyudo, Keraton Surakarta dikocor secara melingkar dengan air kendi. 
Akibat dari tindakan tersebut kendaraan pasukan Belanda luluh, waktu 
masuk keraton seperti masuk sarang angkrang, akhirnya beliau ditemui 
oleh Nabi Khidir agar menemui sanak saudaranya yang ada di Karang 
Kedawang Trowulan Mojokerto. 

Ki Ageng Ngaliman masih keturunan Arab dan mempunyai anak sebanyak 21 
orang. Keterangan ini diperoleh dari salah satu keturunan Ki Ageng 
Ngaliman yang bernama KH. Huseini Ilyas. Perang di Solo tersebut 
melibatkan kaum Cina yang dikenal dengan sebutan Perang Gianti pada 
sekitar tahun + 1720 M. (sumber : KH. Qolyubi). 

SILSILAH KI AGENG NGALIMAN menurut KH. Huseini Ilyas adalah : RONGGOWARSITO 
NUR FATAH 
NUR IBRAHIM 
SYEH YASIN SURAKARTA 
NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO ---MUSYIAH 
I L Y A S 
KH. HUSEINI ILYAS (TROWULAN MOJOKERTO) 

Perjalanan Hidupnya KH. Qolyubi tokoh ulama asal Kelurahan 
Mangundikaran itu berpendapat bahwa aktifitas yang dilakukan Ki Ageng 
Ngaliman adalah untuk mempersiapkan perjuangan melawan Belanda dengan 
diadakan pelatihan fisik dan mental yang bertempat di Padepokan yang 
sampai saat ini disebut Sedepok, dan di Sedudo yang letaknya di Puncak 
Gunung Wilis. Perjuangan tersebut ditujukan guna memerangi Pemerintah 
Belanda yang sedang ikut mengendalikan pemerintahan di Kasultanan 
Surakarta. 
Dasar pemikiran yang melatarbelakangi hijrahnya Ki Ageng Ngaliman dari 
Solo ke Nganjuk adalah karena Nganjuk merupakan wilayah Kasultanan 
Mataram sehingga juga berguna untuk menghindari kecurigaan maka Ki 
Ageng Ngaliman melatih prajuritnya menetap di daerah Nganjuk yang 
merupakan wilayah kasultanan Mataram. Sehingga terjadilah kepercayaan 
bahwa siapa saja yang menyebut nama Kyai Ageng Ngaliman akan mati 
dimakan binatang buas sebab memang beliau dirahasiakan namanya agar 
supaya tidak diketahui oleh Kasultanan Solo. 

Dalam perjalanan waktu menurut cerita bahwa desa Kuncir asal usulnya 
dari murid Ki Ageng Ngaliman yang meninggal dalam perjalanan di tempat 
tersebut, dia adalah seorang cina yang waktu itu cina memakai rambut 
yang dikuncir/dikepang sehingga tempat meninggalnya murid Ki Ageng 
Ngaliman tersebut di sebut Desa Kuncir. 
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ki Ageng 
Ngaliman merupakan seorang Kyai yang mempunyai keahlian nggembleng 
ulah kanuragan keprajuritan. Bagi masyarakat Ngliman, karomah yang 
dirasakan sampai saat ini adanya ketentraman dan kedamaian dalam 
kehidupannya. 

Mengingat Ki Ageng Ngaliman yang mempunyai keahlian neggembleng ulah 
kanuragan keprajuritan maka banyak pusaka yang ditinggalkannya. Ki 
Ageng Ngaliman masih mempunyai peninggalan berupa tanah di depan 
Masjid Ngaliman sehingga oleh perangkat dusun waktu itu tanah tersebut 
dibangun sebuah tempat yang disebut dengan Gedong Pusaka dan 
peninggalan pusakanya Ki Ageng Ngaliman di tempatkan di Gedong pusaka 
tersebut. Sebenarnya pusaka Ki Ageng Ngaliman cukup banyak tetapi ada 
yang dicuri orang sehingga yang ada di Gedong Pusaka saat ini hanya 
ada beberapa pusaka. 

Berdasarkan nara sumber dari Ngliman bahwa yang berada dan disimpan 
digedong pusoko antara lain : 
a. Kyai Srabat ; (Hilang tahun 1976) 
b. Nyai Endel ; (Hilang tahun 1976) 
c. Kyai Berjonggopati; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua) 
d. Kyai Trisula ; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua) 
e. Kyai Kembar 
f. Dalam bentuk Wayang antara lain : Eyang Bondan, Eyang Bethik, Eyang 
Jokotruno, Kyai Panji, dan Nyai Dukun 
g. Kamar 1 buah 
h. Kotak Wayang Kayu 1 buah 
i. Terbang 
j. Almari tempat pusaka 2 buah 
k. Tempat Plandean Tumbak 
Pada bulan Suro diadakan jamasan pusaka Ki Ageng Ngaliman dan dikirap 
mengelilingi Desa Ngliman. 

Air terjun yang ada di Ngliman sebenarnya banyak sekali antara lain : 
Sedudo, Segenting, Banyu Iber, Banyu Cagak, Banyu Selawe, Toyo Merto, 
Tirto Binayat, Banyu Pahit, Selanjar dan Singokromo.Sedangkan yang 
mudah dan bisa dikunjungi adalah Sedudo dan Singokromo. Sedangkan yang 
lainnya seperti Banyu Cagak, Banyu Selawe, Banyu Iber hanya bisa 
dikunjungi dengan jalan setapak. Adapun air yang paling besar adalah 
Air terjun Banyu Cagak. Menurut pendapat dari Bapak Sarni (Jogoboyo 
Ngliman) bahwa untuk pengembangan Wisata perlu dibangun kolam renang 
di Ganter dan dibuatkan perkemahan. 

Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan 
Makam Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan terletak di Desa Ngliman + 100 M 
ke arah timur dari Kantor Desa Ngliman. 
Mbah Iro Karto maupun KH. Qolyubi berpendapat bahwa Ki Ageng Ngaliman 
Gedong Wetan adalah keturunan dari Gresik. Menurut sejarah telah 
disepakati bahwa setiap pengangkatan Sultan yang dinobatkan terutama 
dari keturunan Demak harus mendapat restu dari keturunan Giri Gresik. 
Hal ini disebabkan karena sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, oleh wali 
9 yang diangkat menjadi Sultan adalah Kanjeng Sunan Giri. Setelah 100 
hari setengah riwayatnya 40 hari, kesultanan dihadiahkan kepada Raden 
Patah. 

Hal ini untuk menghindari citra bahwa Raden Patah merebut kekuasaan 
dari ayahnya sendiri. Dengan demikian setiap pergantian Sultan Demak 
yang menobatkan adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri. Setelah 
kasultanan Pajang runtuh, Sultan Hadiwijoyo pindah ke Mataram. Dengan 
kejadian ini terjadi silang pendapat didalam keluarga Giri. Diantara 
keluarga yang tidak setuju dan kalah suara menyingkir ke Ngliman dan 
menyebarkan agama Islam di Ngliman yang kemudian dimakamkan di Ngliman 
Gedong Wetan, Karena beliau lebih cenderung pada keturunan Demak Asli. 
Kemudian kepergian beliau ditelusuri oleh orang Demak asli bernama 
Dewi Kalimah yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Kebon Agung. 
Rentang waktu antara Ngaliman Gedong Wetan dengan Ngaliman Gedong 
Kulon terpaut waktu antara + 200 tahunan. Lebih tua Gedong Wetan. 
Setelah Ngaliman Gedong Wetan meninggal, keluarganya diboyong ke 
Kudus. 

Demikian hasil penelusuran sumber sejarah mengenai riwayat Ki Ageng 
Ngaliman yang dihimpun dari berbagai nara sumber mudah-mudahan dapat 
bermanfaat bagi pengembangan obyek wisata religius. Dasar pemikiran 
yang sangat sederhana ini mudah-mudahan ada gayung bersambut dari 
pihak-pihak terkait guna pengkajian yang lebih mendalam. 

Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa : 
1. Beliau yang dimakamkan di Ngaliman Gedong Kuolon berasal dari Solo 
Jawa Tengah dan masih keturunan Arab dan merupakan Senopati Perang 
Keraton Solo yang bernama Senopati Suroyudo. Perpindahan tersebut 
terjadi pada saat pergolakan Perang Gianti sekitar abad 17. 

2. Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon adalah Kyai yang ahli dalam hal 
penggemblengan ilmu kanuragan. Ini bisa di buktikan bahwa di Desa 
Ngaliman tidak ada Pondok Pesantren namun yang ada tempat peninggalan 
untuk latih keprajuritan dan beberapa pusaka. 

3. Beliau yang dimakamkan di Gedong Wetan berasal dari Gresik Jawa 
Timur sekitar abad 15 saat terjadi silang pendapat tentang penentuan 
orang yang menjabat sebagai raja di kerajaan Demak 

Kirab Pusoko 
------------------ 
Tempat atraksi wisata budaya berupa Kirab Pusoko dipusatkan di Gedung 
Pusoko Desa Ngliman Kecamatan Sawahan. Acara Kirab Pusoko digelar 
setiap bulan Maulud (dikaitkan dengan Bulan Kelahiran Nabi Muhamad, 
SAW), pada acara Kirab Pusoko ini selain acara yang sudah bersifat 
pakem, diisi pula pemeran produk unggulan penunjang dunia 
kepariwisataan. Dengan demikian nampak lebih semarak. 

Kirab pusaka biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 itu berawal dari 
Dukuhan Bruno berjalan berarak-arakan menuju Gedung Pusoko berjarak 
sekitar 2,5 km. Saat itu pula warga di masing-masing pedukuhan 
mengadakan selamatan, dengan suguhan jajanan pala kependem. Yaitu 
seperti ketela, ubi, garut, kacang tanah dan lain-lainnya. 
Pusoko yang dikirab berjumlah enam buah, sebagian banyak berupa wayang 
kayu. Kecuali Kyai Kembar yang berbentuk Cundrik Lar Bangao. Keenam 
pusaka itu ialah Kyai Bondan, Kyai Djoko Truno, Kyai Bethik, Kyai 
Kembar, dan Eyang Dukun serta Eyang Pandji. 

Masyarakat sekitar mempercayai bahwa pusaka-pusaka itu banyak membawa 
tuah diantaranya untuk keberhasilan dunia pertanian dan juga berkah 
kesehatan. Sebab, seperti dituturkan oleh Sang Juru Kunci Gedung 
Pusoko Ngalimin (65), konon ceritanya dulu kala ketika Desa Ngliman 
diserang wabah penyakit termasuk tanaman pertaniannya, Kyai Bondan dan 
Kyai Djoko Truno keliling desa dengan ditandai bunyi klintingan. " 
Karenanya, di daerah Ngliman dan sekitarnya, walaupun bayi dilarang 
mengenakan klinting" tambah mBah Ngalimin. 

Acara ini tidak ada kaitannya dengan agama., Bahkan, acara seperti itu 
bisa saling melengkapi kasanah budaya khususnya budaya jawa. Oleh 
karenanya, kedepan acara serupa bisa dikemas sebagai sebuah atraksi 
wisata budaya yang layak jual..... 

*Sumber : Putra Wilis http://joyodrono-cahmabung.blogspot.co.id/2017/01/menyusuri-sejarah-mbah-ngaliman-sedudo.html

#MbahNgaliman 
#sedudo 
#sawahan 
#Nganjuk

1 komentar:

  1. Terima kasih atas informasinya, kemarin saya baru saja berziarah dan ingin tahu cuplikan sejarahnya, dan ternyata ada di sini. Matur nuwun..

    BalasHapus