Jumat, 15 Desember 2017

PERHIASAN MUSANTARA ,HIASAN DADA (WANGPRA) MALUKU

HIASAN DADA (WANGPRA)






Jenis : Perhiasan Emas Nusantara
Nama : HIASAN DADA (WANGPRA)
Era : —
Asal : Maluku
Ukuran : 24 cm x 6.5 cm
Material : Emas
No. Registrasi : 2101

Koleksi :
Museum SIWALIMA
Jl. Taman Makmur, Ambon,
Maluku, Indonesia



Jenis : Perhiasan Emas Nusantara
Nama : HIASAN DADA (WANGPRA)
Era : —
Asal : Maluku
Ukuran : 24 cm x 6.5 cm
Material : Emas
No. Registrasi : 2101

Koleksi :
Museum SIWALIMA
Jl. Taman Makmur, Ambon,
Maluku, Indonesia








sumber :https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/02/11/perhiasan-emas-nusantara-hiasan-dada-wangpra-maluku/

MAHKOTA KE AGAMAAN BUDA JAWA TIMUR ABAD 10 M.

MAHKOTA KEAGAMAAN BUDA JAWA TIMUR ABAD 10 M.

Jenis : Mahkota Keagamaan
Nama : MAHKOTA RITUAL AGAMA BUDHA
Era : Abad Ke-10
Asal Perolehan : Muteran, Mojokerto, JAWA TIMUR

Koleksi :
National Museum of Ethnology
(Rijksmuseum voor Volkenkunde)
Steenstraat 1, Leiden 2300 AE, The Netherlands

Inventaris No. : 1403-2783
Ritual headgear

Special collection: Insular Southeast Asia
Inventory number: 1403-2783
Title: Ritual headgear
Material / technique: Gold
Dimensions: 15.5 x 14.4 cm
Date: First half 10th century

Description:
The most striking feature of this unusual headgear, the construction of rows of spiral curls and the pinnacle. This spiral curls correspond exactly to one of the main features of a Buddha. Because a Buddha has a skull with an increase ushnisha, entirely by rotating clockwise curls covered. In the visual arts that appear in different ways. In this case, the requirement quite literally followed. On top of the curl is a double lotus cushion that serves as the basis for a vajra, four sickle-shaped projections grouped around a tube. A similar hat is in the Museum in Jakarta Pusat. It is two fragrnenten such helmets in the same place as ours, in the village in the department Muteran Mojokerto in East Java. The richer and more complete copy in Jakarta can be deduced that originally in the tube between the four claws was a glass globe, by means of a gold ornament with chains on the four points was confirmed. The golden helmet, presumably through the eyelets at the bottom of a substance attached to it, acted as head of a Buddhist priest in certain rituals. Similar helmets are in Nepal to this day used in this way. The village where this ritual helmets are found located in the department Mojokerto where in the fourteenth and fifteenth centuries (at the place where the village lies Trawulan) the power center of the empire was Mojopahit. From several other sources is known to royal when that form of Buddhism confessed, the vajra, as a symbol for the method, and ghanta, a priest bell, symbolizing the teaching, the main instruments were at the highest insight and hence Redemption away. English Text: The most striking feature of this unusual head-dress are the structure created by rows or tight spirals and the apical ornament. The coils correspond exactly with one of the most important Characteristics of a Buddha: a protuberance of the skull, ushnisha, completely covered with curls coiling clockwise. These Characteristics are represented in Various ways of art, and in this case the leg Prescriptions have followed rather literally. Above the curls there is a double lotus pillow serving as base for a vajra, four crescent-shaped projections grouped around a socket. A similar head-dress now in the Museum in Jakarta Pusat was found together with two helmets Such fragments or in the same place as the one Shown here, ie, in the village of Muteran in the department of Mojokerto in East Java. On the basis of the richer and more complete specimens in Jakarta May be it assumed That originally the socket Between the four claws held a glass ball attached to the Four Points by a fine decoration and chains made of gold. The Golden Helmet, All which was attached to Probably a piece of cloth by the eyes on the lower edge, served as covering for the head of a Buddhist priest in ‘certain rituals. Comparable helmets are still overused in the Same Way in Nepal today. The village where this ritual helmet was found in the Department of Mojokerto, where the center of power of the state, Mojopahit situated in the Fourteenth and fifteenth centuries, is located on the site of the present village of Trawulan. It is known from other sources Several That at this period the royal house adhered to the form of Buddhism making use of the vajra, as symbolic of the method, and the ghanta, a bell priests, as symbol of the doctrine, All which were among the most important instruments for the Highest Attain Insight and Enlightenment Galanthus.

Function: headgear
Culture: Indo-Javanese
Origin: Jawa Timur
Object keywords: Head Jewelry

Publications:
Dongen, of PLF, Forrer, M., Gulick, of WR (eds.), Highli
ghts from the National Museum of Ethnology. Leiden 1987. Juynboll, HH, catalog’s National ethnographical museum. Vol. V. Leiden 1909, pp.. 192f.
Category: utensils
In preparation: Japan / Korea-room
English Presentation title: Ritual head-dress
English material / technique: Gold
English date: 1300-1500

Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.

“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”.



















sumber :https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/01/01/mahkota-nusantara-mahkota-ritual-agama-budha-abad-ke-10/

MAHKOTA KESULTANAN BANTEN ABAD 19 M

MAHKOTA KESULTANAN BANTEN ABAD 19




Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KESULTANAN BANTEN
Era : Abad ke-18
Asal : Banten, Jawa Barat, Indonesia
Material : Emas, Batu Mulia, dan Logam yang dilapisi sepuhan

Dimensi : 17.0 x 11.5 cm (bagian terluar dari mahkota)

Koleksi :

MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah)
Jalan Medan Merdeka Barat no.12,
Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110, INDONESIA

Keterangan :

Mahkota dengan desain tertutup oleh dedaunan yang mencerminkan tradisi dekoratif Jawa yang berkembang dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Mahkota, dalam berbagai gaya, merupakan bagian penting dari kerajaan yang dianggap sebagai pusaka di banyak bagian Asia Tenggara.

MAHKOTA KESULTANAN SIAK SRI INDRAPURA ,RIAU

MAHKOTA KESULTANAN SIAK SRI INDRAPURA SIAK RIAU



Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KESULTANAN SIAK SRI INDRAPURA
Asal : Siak, Riau
Material : Emas, Batu Mulia dan Batu Permata

Koleksi :
MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah)
Jalan Medan Merdeka Barat no.12,
Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110
INDONESIA

No. Inventaris : E26

Mahkota ini berasal dari keluarga kesultanan Siak Sri Indrapura di Riau. Dibuat dari emas dan dihiasi permata berlian dan mirah, bermotif filigri dengan berbagai teknik. Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kedaulatannya dan tunduk kepada pemerintah RI dan memberikan mahkotanya kepada pemerintah RI untuk kemudian diserahkan dan dipamerkan di Museum Nasional

MAHKOTA MATARAM KUNO ABAD 8-10 M

MAHKOTA MATARAM KUNO .MAHKOTA KEAGAMAAN 






jenis : Mahkota Keagamaan
Nama : PENUTUP ATAS USNISHA
Era : Abad Ke 8 – 10
Asal Perolehan : Jawa Tengah
Material : Emas

Koleksi :
THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Data Museum :

Ushnisha Cover

Period: Central Javanese period
Date: 8th–early 10th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Gold
Dimensions: H. 2 5/8 in. (6.8cm)
Classification: Metalwork

Credit Line: The Samuel Eilenberg-Jonathan P. Rosen Collection of Indonesian Gold, Bequest of Samuel Eilenberg and Gift of Jonathan P. Rosen, 1998
Accession Number: 1998.544.9
This artwork is currently on display in Gallery 247

Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.

“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”





sumber :https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/02/28/penutup-atas-usnisha-abad-ke-8-10-jawa-tengah/


MENURUT PRASASTI WANUA TENGAH III 830 CAKA (1 OKTOBER 908 M) .LIHAT DAFTAR RAJA JAWA MENURUT VERSI PRASASTI WANUA TENGAH III DI BAWAH INI Kerajaan Keling (KALINGGA DI KELING KEPUNG KEDIRI /SEKARANG ADALAH BAGIAN WILAYAH JAWA TIMUR) 1. Prabhu Wasumurti 594-605 2. Prabhu Wasugeni 605-632 3. Prabhu Wasudewa 632-652 4. Prabhu Wasukawi 652- 5.. Prabhu Kirathasingha 632-648 7. Prabhu Kartikeyasingha sang mokteng Mahamerwacala 648-674 8. Sri Maharani Mahisasuramardini Satyaputikeswara (Dewi Shimha) 674-695 Dimasa ini Ibukota Kerajaan Keling Kalingga Di Pindah Ke Sekitar JEPARA ,KEMUDIAN KALINGGA dibagi dua: A. Kerajaan Bhumi Sambhara (Keling) 1. Rakryan Narayana Prabhu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala 695-742 2. Rakryan Dewasingha Prabhu Iswaralingga Jagatnata 742-760 3. Rakryan Limwana Prabhu Gajayanalingga Jagatnata 760-789 4. Dewi Satyadarmika (Uttejana!) menikah dengan Rakai Panangkaran B. Kerajaan Bhumi Mataram (Medang) 1. Rani Dewi Parwati Tunggalpratiwi 695-709 2. Dewi Sannaha 709-716 3. Sang Bratasennawa (Sanna) 716-732 4. Prabhu Sanjaya Ksatrabhimaparakrama Yudhenipuna Bratasennawaputra (Rakai Medang Sang Ratu Sanjaya) 732-754 5. Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Sangkara Tejahpurnapana Panangkarana 754-782 Wangsa Sailendra a. Sri Maharaja Dharanindra Sang Prabhu Sri Wirawairimathana (raja daerah di Bhumisambara 755-782) 782-801 b. Sri Maharaja Samaratungga (Samaragrawira) 801-846 c. Pramodawardhani (Sri Kahulunan) menikah dengan Rakai Pikatan 6. Rakai Panunggalan Lingganagarottama (Prabhu Dyah Panunggalan Bhimaparakrama Linggaprawita Jawabhumandala) 782-800 7. Rakai Warak Dyah Watukura Lingganarottama Satyajayabhumi 800-819 8. Rakai Garung Dang Rakarayan Patapan Pu Palar 819-840 9. Rakai Pikatan Dyah Kamulyan Sang Prabhu Linggeswara Sakalabhumandala 840-856 10. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (Sri Maharaja Kayuwangi Tunggalkawasa Sakalabhumi / Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Sri Sajanotsawatungga) 856-886 11. Sri Maharaja Gurunwangi Dyah Saladu & Rakai Gurunwangi Dyah Ranumanggala 886-890 12. Sri Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra 890-896 13. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (Pu Tguh!) 896-898 14. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu (Sri Iswarakesawa Samarottungga) 898-910 15. Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya (Rakai Kalungwarak Pu Daksa) 910-919 16. Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjana Sanmattanuragatunggadewa 919-924 17. Sri Maharaja Rakai Pangkaja/Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamotungga 924-929 18. Sri Maharaja Rakai Hino Pu Sindok Sri Isanawikramadharmotunggadewa 929-947 19. Rani Sri Isanatunggawijaya & Sri Lokapala 947-960! 20. Sri Maharaja Makutawangsawardhana 960!-980! 21. Sri Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa (Sang Apanji Wijayamertawardhana) 980!-1016 22. Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramotunggadewa 1019-1043 Kerajaan dibagi 2, Pangjalu dan Janggala. Versi Prasasti Wanua Tengah III 830 S (1 Oktober 908) 1. Rahyangta ri Mdang (Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya) 2. Rahyangta i Hara 3. Rakai Panangkaran 7 Oktober 746- 1 April 784 4. Rakai Panaraban 1 April 784- 28 Maret 803 5. Rakai Warak Dyah Wanara 28 Maret 803- 5 Agustus 827 6. Dyah Gula (hanya 6 bulan) 5 Agustus 827- 24 Januari 828 7. Rakai Garung 24 Januari 828- 22 Februari 847 8. Rakai Pikatan Dyah Saladu 22 Februari 847- 27 Mei 855 9. Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala 27 Mei 855- 5 Februari 885 10. Dyah Tagwas (hanya 8 bulan) 5 Februari - 27 September 885 11. Rakai Panumwangan Dyah Dewendra 27 September 885- 27 Januari 887 12. Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra (hanya 1 bulan) 27 Januari - 24 Februari 887 13. Rakai Limus Dyah Dewindra 887-894 14. Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang 27 November 894-23 Mei 898 15. Rakai Watukura Dyah Balitung 23 Mei 898- ? Kerajaan Janggala 1. Sri Maharaja Mapanji Garasakan 1041/3-1049 2. Sri Maharaja Sri Samarotsaha Karnnakeshana Ratnasangkha Kirttisingha Jayantaka Tunggadewa 1049-1059 3 a. Sri Maharaja Garasakan (Raja Janggala-Pangjalu) 1049-1052 3b. Sri Maharaja Mapanji Alanjung Ahyes Makoputadhanu Sri Ajnajabharitamawakana (Raja Janggala-Pangjalu) 1052-1059 4. Sri Maharaja Rake Hino Sri Kretapati 1059- ? Kerajaan Pangjalu (Kadiri) 1. Sri Samarawijaya Dhanasuparnnawahana Tguh Uttunggadewa 1041/3-1049 2a.Sri Maharaja Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta 1051 (Prasasti Mataji) 2b. Mapanji Alanjanung 1049-1052 3. Sang Jayawisesa Digjayasastraprabhu 1052-1102 4. Sri Maharaja Jayabhuwana Keshananantawikramottunggadewa 1102-1104 5. Sri Maharaja Jayawarsa Digjayasastraprabhu 1104-1115 6. Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Parameswara Sakalabhuwana 1115-1117 7. Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Bameswara Sarwwayasa Wiryjanagara 1117-1135 8. Sri Maharaja Sri Warmmeswara (Jayabhaya) 1135-1159 9. Sri Maharaja Rake Sirikan Sri Sarwweswara 1159-1169 (1171!) 10. Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryyeswara 1169-1181 11. Sri Maharaja Sri Kroncaryyadipa Sri Gandra 1181-1182(1185!) 12. Sri Maharaja Kameswara Triwikrama 1182-1194(!) 13. Sri Maharaja Sarwweswara (Srengga) 1194-1205(!) 14. Sang Prabhu Kretajaya (Prabhu Dangdanggendis) 1205(!)-1222 15. Sang Prabhu Jayasabha 1222-1258 16. Sang Prabhu Sastrajaya 1258-1271 17. Sang Prabhu Jayakatwang 1271-1293 Kerajaan Tumapel (vasal Panjalu) 1. Tunggul Ametung 1218-1220 2. Ken Arok 1220-1222 Kerajaan Tumapel di Kutaraja 1. Sri Rajasa Bhattara Sang Amurwabhumi (Ranggah Rajasa atau Bhatara Siwa) 1222-1227 kerajaan dibagi 2: A. Kerajaan Panjalu di Daha 1. Mahisa Wongateleng (Bhatara Parameswara) 1227- ! 2. Nararya Guning Bhaya (Agni Bhaya) ! - ! 3. Nararya/Panji Tohjaya ! -1250 B.Kerajaan Tumapel di Kutaraja & Singhasari(1254) 1. Sang Anusapati (Anusanatha) 1227-1248 2. Sri Jaya Wisnuwarddhana (Mapanji Sminingrat/Ranggawuni) 1248-1268 3. Sri Maharajadhiraja Sri Kertanagara Wikramadharmottunggadewa (Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wiraasta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murdhaja) 1268-1292 KERAJAAN MAJAPAHIT IYANG BERIBUKOTA DI TROWULAN 1. Sri Kertarajasa Jayawarddhana Anantawikrama Uttunggadewa (Nararya Sanggramawijaya atau Sri Harsawijaya) 1293-1309 2. Sri Jayanagara atau Kalagemet (Sri Sundarapandyadewadhiswaranamarajabhiseka Wikramottunggadewa) 1309-1328 3. Sri Tribhuwanottunggaraja Anantawikramottunggadewi (Tribhuwanattunggadewi Jayawisnuwarddhani atau Tribhuwanawijayattunggadewi) 1328-1351 4. Maharaja Sri Rajasanagara Bhra Hyang Wekas ing Sukha (Hayam Wuruk atau Rajasarajaya) 1351-1389 5a. Wikramawarddhana (Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama atau Raden Gagaksali) Raja Kedaton Kulon 1389-1429 5b. Kusumawarddhani (Raja Kedaton Kulon) 1400-1401 6a. Paduka Parameswara Sri Wijayarajasa (Raja Kedaton Wetan) 1376-1398 6b. Bhre Wirabhumi (Raja Kedaton Wetan) 1398-1406 7. Suhita (Prabhu Stri) 1429-1447 8. Sri Maharaja Wijayaparakramawarddhana Dyah Kertawijaya (Bhre Tumapel atau Prabhu Brawijaya) 1447-1451 9. Sri Rajasawarddhana Sang Sinagara (Bhre Pamotan) 1451-1453 Interregnum 1453-1456 10. Girisawarddhana Dyah Suryawikrama Bhra Hyang Purwawisesa (Bhre Wengker) 1456-1466 11. Sri Singhawikramawarddhana Dyah Suraprabhawa (Bhre Pandan Salas atau Bhre Kertabhumi) 1466-1478 IBU KOTA MAJAPAHIT DI PINDAH KE DAHA KEDIRI (IBUKOTA KERAJAAN KELING /KALINGGA DIZAMAN DAHULU)NAMA KERAJAANNYA ADALAH WILWATIKTA JENGGALA PANJALU KEDIRI 1. Girindrawarddhana Dyah Wijayakarana Sang Mokta ring Amretawisesalaya (Bhre Mataram) 1478-1482 2. Girindrawarddhana Singhawarddhana Dyah Wijayakusuma Sang Mokta ring Mahalayabhawana (Bhre Pamotan) 1483-1486 3. Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya (Bhatara Wijaya atau Bhre Kertabhumi) 1486-1527. Kalingga di keling kepung kediri,kalingga di jepara,mataram kuno,kanjuruhan,medhang ,jenggala,panjalu,daha kediri,singasari,majapahit, bukankah semua adalah keluarga yang berserak.yang awalnya hanya satu keluarga di kerajaan keling kalingga Kediri?.

MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA Abad Ke-19, Bali

MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA Abad Ke-19, Bali





Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA
Era : Abad ke-19
Asal : Singaraja, Bali
Material : Emas dan Batu Mulia

Koleksi :
THE MUSEUM OF FINE ARTS, HOUSTON
1001 Bissonnet Houston, Texas 77005

Data Museum :

ROYAL COURT OF SINGARAJA, BALI
Indonesia
Crown
Late 19th century
Gold, rubies, sapphires, and diamonds
6 x 10 1/4 x 8 inches

The Museum of Fine Arts, Houston
Gift of Alfred C. Glassell, Jr.
Department of the Arts of Africa, Oceania, & the Americas Arts of the South Pacific

ABOUT
In the 19th century, the royal courts of Bali enjoyed great prosperity and hosted numerous ceremonies and rituals. To assert their right to rule, and to glorify the gods, rulers commissioned artists to create objects of the highest quality. This elegant queen’s crown from the court of Singaraja is fashioned in pure gold with diamonds, rubies, and sapphires. Delicate flowers in gold leaf suspended on thin metal wires and springs shimmer with movement.

Bali is an Indonesian island small in size but rich in adornment. Its artistic tradition descends from older Javanese styles and the ornate Hindu style of India. As in most cultures of Indonesia, gold was believed to be empowered and able to cause both good and evil. It was also valued as a symbol of high status. This rare crown may have been commissioned as part of a larger set of royal adornment by King Gusti Agung Gede Agung in 1890 for an important wedding ceremony. Almost all of the artworks in the set are made of pure gold, evidence of great wealth.

Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.

“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”.

MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG) BALI

MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG) BALI




Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG)
Asal : Badung, Bali
Material : Emas, Batu Mulia dan Batu Permata

Koleksi :
MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah)
Jalan Medan Merdeka Barat no.12,
Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110
INDONESIA

Ini adalah perhiasan kepala yang sangat indah berasal dari istana kerajaan Badung – Bali. Mahkota ini dikenakan pada acara-acara upacara penting, antara lain oleh pengantin pada pernikahan kerajaan. Hal ini juga dapat dikenakan oleh penari pilihan dari istana saat melakukan tarian gambuh. Sementara bagian depannya dihiasi dengan berbagai bunga logam kecil, bagian belakang berbentuk gelung agung, yang berbentuk segitiga dan menampilkan tiga segitiga kecil dihiasi dengan 175 batu permata, ukiran kepala gajah, serta asti karang (batu khusus) yang diyakini memiliki kekuatan gaib untuk mengusir kejahatan, sama spektakulernya dengan keindahan yang dipancarkannya. Jadi, ketika penari gambuh menghadap ke belakang membelakangi penonton, penonton disuguhi tampilan yang menakjubkan dari keindahan maha karya ini.




sumber : https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/04/12/1410/