Senin, 07 Oktober 2013

HANENTREMAKEN PENGGALIH SAKWETAWIS


Mari kita lirik keindahan dan ke
luasan alam makrokosmos di dalam diri kita,mencebur dan kemudian hidup abadi di dalam genggaman-Nya.tata kembali kosmos dalam diri ini. Perubahan sekecil apapun di hati/rasa/qalbu…,owah gingsirnya batin kita hakikat-Nya adalah perubahan yang sangat besar karena perubahan itu terjadi di... Arasy makromosmos. 

  Jika ruang sunyi di Hati-mu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu,masuklah ke dalam bilik Ruh-Mu, karena dalam bilik Ruh-Mu ada hamparan Agung Sirr-Mu, dimana sunyi-Mu menjadi Sirna-Mu kepada-Nya, bahkan tak kausadari kau panggil-panggil nama-Nya, karena kau telah berdiri di depan Gerbang-Nya

 Kekosongan atau kehampaan yang diusahakan adalah wujud dari Kesombongan,kekosongan dan kehampaan hanya bisa diraih dengan tumungkuling rasa, andap asoring manah,kesadaran diri bahwa kita ini bukan apa-apa dan bukan Siapa-siapa dihadirat Gusti kang murbeng Dumadi dan kesadaran diri marang sapodo padaning tumitah tumraping urip bebrayan.

  Tiap saat kita mampu menempatkan diri dihadirat Gusti dalam perbandingan yang wajar bahwa manusia itu memang bukan apa apa dan Gusti adalah Segalanya..daya kodrat manusia tidak mampu untuk memberikan kesadaran yang demikian,selain manusia dapat kurnia yang bisa mengatasi kelekatan manusia pada rasa keakuan-nya,karena itu sifat rendah diri tersebut disebut sifat rendah diri manusia yang dibangkitkan oleh rahmat..kalau kita memang percaya kalau suwung itu amengku ana,maka sudah selayaknya-lah kalau kita dalam kehidupan sehari-hari menyadari kebukan apa apaan kita..
Gusti itu Baru Kang-Murbeng Dumadi bila diperlakukan sebagai Gusti oleh dumadi.

OLAH KEPRIBADIAN AGUNG PAMBUDI






DI KEDIAMAN MAS TONO JL AIRLANGGA KEDIRI

DI KEDIAMAN MAS TONO JL AIRLANGGA KEDIRI









EYANG PANDU PRAGULO PATI ARGO PARANG GUNUNG WILIS KEDIRI

ARGO PARANG GUNUNG WILIS KEDIRI JAWA TIMUR
PISOWANAN AGUNG EYANG PANDU PRAGULO PATI

CERITA RAKYAT
Pesona Wisata Ziarah Makam Eyang Prabu Pandu Pragolopati

Terletak di Dusun Parang Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri 

Memang belum banyak diketahui di Desa tersebut tepatnya berada dipuncak bukit terdapat pemakaman Raja Mataram dari “trah“ atau keturunan Putro Kusumo. Sebuah cerita perjalanan panjang intrik perebutan kekuasaan yang menyebabkan terbunuhnya satu keluarga kerajaan sampai melarikan diri ke wilayah Kediri. Terbentuknya nama nama desa sekitar tempat ini juga berasal dari riwayat pelarian keluarga Pandu Progolopati . Seperti Gringging yang mengisankan ketika dalam perjalanan sang raja merasakan “Gringgingen”/kesemuten, banyakan ketika beliau sudah merasakan sakit yang luar biasa, Peso ketika beliau harus memaksakan diri untuk mencapai perbukitan dan parang yang diartikan makam untuk raja ketika beliau menemui ajal disana.

Untuk menuju kelokasi ini dari trafic Pasar Banyakan Jalan Raya Kediri- Nganjuk ±15 km kearah Desa Parang, bisa ditempuh dengan menggunakan mobil atau sepeda motor melalui jalan beraspal yang mulus sampai kekaki bukit pertigaan dusun Parang bila kearah kanan menuju Goliman kekiri menuju makam lalu menyusuri punggung bukit sampai ke pemakaman. Bagi yang mempunyai hoby tracking perjalanan menyusuri jalan setapak ini tentu merupakan tantangan tersendiri karena medan yang dilalui juga lumayan menantang.

Lelah dan capek selama perjalanan akan terobati jika sudah sampai ke lokasi. Sejuknya hawa pegunungan yang belum tercemar polusi dan indahnya pemandangan wisata alam pegunungan semakin menambah keindahan tempat ini. Apalagi jika dilihat di malam hari maka hamparan pemandangan lampu lampu yang tampak dari atas menambah eksotisme tempat ini.

Dilokasi pemakaman ini terdapat 7 (tujuh) makam yang dikeramatkan yaitu makam Prabu Pandu Pragulopati bersama permaisurinya Kanjeng Putri Sutra Kenanga, Patih Respati, ibu Prabu Pandu Putri Sedyowati, dan ketiga anak anaknya yaitu Sri Kuning, Jaya Kapitrisna dan Mulyo Kusumo.

Setiap bulan Suro makam ini banyak dikunjungi keluarga besar kerajaan baik dari Solo, maupun dari Yogjakarta. Penduduk setempat sekitarpun selalu melakukan tradisi selamatan ditempat ini untuk menghormati keluarga yang dimakamkan disini. 
Refferensi tulisan(Hari S -Kominfo)









Eyang Prabu Pandu Pragulopati bersama permaisurinya Kanjeng Putri Sutra Kenanga,





EYANG SAPU JAGAD

MUSEUM AIRLANGGA KEDIRI

MUSEUM AIRLANGGA KEDIRI





Hm, Museum Airlangga berada di Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kotamadya Kediri, Jawa Timur dan masih satu komplek dengan areal wisata Gua Selomangleng, Waterpark dan bersebelahan dengan Pura Penataran Agung Kilisuci.

Menuju ke Museum Airlangga

Karena letaknya berada di areal wisata andalan Kota Kediri, untuk menuju ke Museum Airlangga cukuplah mudah.

  >  Dari Terminal Kediri, bisa naik angkot A atau yang bertuliskan Selomangleng, biaya Rp 2.500,- Harap dicatat bahwa jam operasional angkot ini hanya
sampai sekitar jam setengah empat sore.

  >  Bagi yang naik bis dari arah Surabaya maupun Nganjuk bias turun di perempatan Sukorame. Selanjutnya bisa naik becak maupun ojek atau berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer, itung – itung sambil olahraga.

  >  Jika berkendara sendiri, arahkan kendaraan menuju ke Terminal Tamanan Kota Kediri (Jika sempat silahkan mampir dan mencoba Soto Kediri Bok Ijo yang terkenal itu). Dari pertigaan terminal, belok ke kanan atau ke utara. Terus saja hingga bertemu lampu lalu lintas. Belok kiri dan terus hingga ujung jalan.

Pada awalnya, Museum Airlangga berada di areal Pemandian Tirtoyoso (Kuwak) Kota Kediri yang berada di Jl. A.Yani dan bersebelahan dengan Stadion Brawijaya. Bangunan awal museum pada zaman Belanda sangat unik dengan gapuranya yang berhias kalamakara. Namun, seiring berjalannya tahun, kondisi museum benar – benar menyedihkan dan sangat rawan pencurian, hingga pada akhirnya ada tukar guling lahan antara Gudang Garam dengan Pemkot Kediri di areal Gunung Maskumambang, letak museum yang sekarang ini berdiri. Bangunan museum yang lamapun berubah menjadi kafe dan sekarang dihancurkan untuk perluasan dan perbaikan Pemandian Tirtoyoso.

Pada tahun 1992, pembangunan Museum Airlanggapun telah selesai. Museum Airlangga sendiri mengambil nama dari Raja Airlangga, Pendiri Kerjaaan Kahuripan dan ayah dari Dewi Kilisuci yang erat hubungannya dengan legenda maupun sejarah Gua Selomangleng. Untuk mengungukuhkan kesan Airlangga ini, di depan museum dipajang Arca Garuda Menunggangi Wisnu yang tentu saja merupakan replika dan arca yang aslinya sekarang berada di PIM (Pusat Informasi Majapahit) serta aslinya berasal dari Candi Belahan.

Koleksi Museum Airlangga

Untuk masuk ke Museum benar – benar murah meriah ! Untuk orang dewasa, hanya perlu membayar Rp 1.000,- sedangkan anak – anak Rp 500,- Museum Airlangga sendiri hanya terdiri dari satu ruangan besar. Koleksi Museum Airlangga sendiri lumayan banyak, ada arca, jaladwara, fragmen relief, kalamakara, prasasti, bata kuno, guci kuno, tembikar, yoni, jambang batu, makara, batu berangka tahun.

Sayangnya, walaupun memiliki banyak benda koleksi cagar budaya, kebanyakan dan hampir semua koleksinya minim informasi serta sangat kurang dalam penjelasan tempat diketemukannya benda – benda cagar budaya tersebut dan hanya sebatas keterangan definisi benda koleksi tersebut. Yang ada tulisan asal muasalnya hanyalah fragmen batu candi berupa hiasan suluran tanaman yang berasal dari Dusun Kedaton, Desa Lirboyo dan bata kuno yang diketemukan di Dusun Botolengket, Desa Bujel. Juga, banyak prasasti dan batu berangka tahun yang tidak ada penjelasannya tentang isi prasasti maupun tahun yang terukir pada batu angka tahun tersebut.







 Benda Koleksi Museum Airlangga

Diantara koleksi Museum Airlangga, ada beberapa koleksi yang menurutku unik, diantaranya jaladwara dengan hiasan seorang wanita pada sisi depannya, jambangan batu super besar dengan ragam hiasan suluran tanaman ditambah huruf pallawa pada salah satu sisinya, serta hiasan candi dari Desa Kedaton yang --- walau sedikit --- memiliki guratan yang menawan, terutama terbuat dari batu kapur padat, padahal daerah penemuannya jauh dari tempat penghasil batu kapur dan candi dari batu kapur sangat langka sekali !!

Masih belum cukup, ada juga arca Siwa dengan ukuran besar yang langsung menjadi pusat perhatian saat berada pada museum. Sayangnya, arca ini rusak pada beberapa tempat hingga harus disemen, duh !

Kalamakara Model Jawa Tengahan
Hal menarik lainnya adalah kalamakara yang biasa menghiasi ambang pintu candi. Museum Airlangga memiliki beberapa koleksi kalamakara dan beberapa diantaranya tidak memiliki rahang bawah. Kalamakara tanpa rahang bawah merupakan ciri khas kalamakara yang ada di Jawa Tengah. Prof Soekmono menjelaskan bahwa candi – candi peninggalan Kerajaan Kadiri memiliki ciri unik yang merupakan perpaduan antara candi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Candi – candi masa Kadiri ini bisa ditemukan pada Candi Gurah, Candi Tondowongso, Candi atau Pertirtaan Kepung dan yang terbaru, Situs Sumber Cangkring.

Selain itu, masih ada dwarapala dalam ukuran besar yang berada di luar bangunanmuseum. Berbeda dengan dwarapala lainnya yang selalu dipahat dalam posisi salah satu kaki bersimpuh dan memanggul gada pada salah satu bahunya, dwarapala ini dipahatkan dalam posisi berdiri dan gadanya diletakkan dibawah (posisi gada di bawah juga bisa dilihat pada dwarapala Singosari).

Koleksi Museum Yang Berada Di Luar Bangunan Museum

Selain di dalam gedung, beberapa arca, yoni dan jambangan batu di letakkan di taman di luar gedung. Peletakkan disini kurang tepat karena membuat benda – benda tersebut rawan dicuri serta berlumut disana – sini saat musim hujan tiba.

Senin Tetap Buka

            Jika kebanyakan museum libur pada hari Senin, hal itu tidak berlaku pada Museum Airlangga. Pada awalnya, memang hari Senin museum libur, tapi mengingat ramainya kunjungan ke Selomangleng pada hari Minggunya dan banyaknya sampah pengunjung yang bertumpuk pada Senin harinya, maka diputuskanlah untuk tetap membuka museum pada hari Senin serta untuk bersih – bersih area sekitar museum. Sebagai gantinya, museum tutup pada hari Jum’at. Museum Airlangga sendiri buka pada pukul delapan pagi hingga pukul dua siang.

            Walau memiliki banyak benda cagar budaya yang penting, namun hal itu berbanding terbalik dengan kondisi museum. Museum Airlangga yang dijaga dua orang, mbak Yuni dan Mas Andi ini kondisinya sangat menyedihkan. Bagian langit – langit museum rusak dan jebol disana – sini serta bocor pada musim penghujan.

Museum Airlangga

Walau menyandang gelar sebagai Museum teramai Kedua di Jawa Timur, kenyataannya Museum Airlangga benar – benar sepi dan hanya ramai pada hari – hari libur saja, terutama hari Minggu. Saking sepinya, banyak orang yang ingin masuk jadi ragu untuk masuk. Selain sepi, Museum Airlangga juga kurang promosi, bahkan pamflet atau selebarannyapun tidak ada. Saya sendiri sempat minta ke kantornya dan setelah dapat ternyata selebaran tersebut merupakan selebaran tahun 2007 yang masih sisa banyak !! --- Kok ya ga dibagi – bagi ke pengunjung museum dan kapan mencetak yang baru untuk menggantikan selebaran yang terlihat ala kadarnya ini ?

Juga mendapat informasi dari Mr. Olivier Johannes yang memiliki koleksi Kartoe Pos Lama yang luar biasa. Menurut catatan sejarah kolonial, pada zaman sekitar tahun 1900, pendiri Museum Airlangga mengumpulkan arca-arca dari berbagai lokasi, banyak yang sebelumnya berfungsi sebagai hiasan halaman petinggi pribumi.

Pencurian Koleksi Museum

            Menurut berita dari internet, katanya beberapa koleksi Museum Airlangga telah dipalsu, sedangkan benda yang asli telah dijual kepada kolektor. Hal ini bercermin pada kasus yang menimpa Museum Radya Pustaka Solo yang banyak benda koleksinya dipalsu dan yang asli dijual, serta melihat betapa minimnya penjagaan di Museum, terutama pada malam hari.

Pihak Disbudparpora pemkot Kediripun menepis anggapan tersebut karena berdasarkan inventarisasi terbaru mereka, semua benda koleksi museum masih utuh dan tak hilang satupun. Karena belum adanya penelitian lanjutan, sepertinya banyak masyarakat yang tak akan tahu mana yang benar diantara dua pernyataan ini. Saya sendiri lebih berharap bahwa berita ini tidak benar karena akan sangat sayang sekali jika benda museum dijual ke para kolektor. Juga, adanya berita bahwa Pemerintah Pusat berniat mengucurkan anggaran sebesar Rp 1,8 milliar untuk memugar Museum Airlangga mengingat keadaan museum yang menyedihkan dan museum tak pernah dipugar sejak dibangun.

Kartu Pos Lama koleksi Mr. Olivier Johannes (terima kasih karena sudah mau meminjamkannya ^^b)

Courtesy Tropen Museum --- Museum Tirtoyoso (Kuwak) Cikal Bakal Museum Airlangga

Semoga setelah museum dipugar dan melakukan promosi yang gencar, pamor Museum Airlangga akan terangkat kembali dan museum kembali ramai demi menyukseskan program Tahun Kunjungan Museum.

Museum, tempat yang menyenangkan dimana pengetahuan berbaur dengan rekreasi. Jadi, sudahkah kalian siap ke museum 

AIR TERJUN SINGO KROMO NGANJUK JAWA TIMUR

AIR TERJUN SINGO KROMO NGANJUK JAWA TIMUR




Air Terjun Singokromo memiliki ketinggian hanya sekitar 20 meter dengan debit air yang cukup besar. Kondisi Air Terjun Singokromo masih betul-betul alami.  Air terjun ini terletak tidak jauh dari Air Terjun Sedudo lebih tepatnya dibawahnya, jaraknya lebih dekat dari pintu masuk loket obyek wisata.
Lokasi

Terletak di Desa, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Propinsi Jawa Timur.

Peta dan Koordinat GPS: 


Aksesbilitas
Berjarak sekitar 2,5 km ke arah selatan dari Kota Nganjuk atau sekitar 2 km di selatan Agro Wisata Ganter.  Jalan masuk ke air terjun ini terletak di dekat pertigaan yang jalannya menanjak 500 m dari loket masuk ke Air Terjun Sedudo.

Kondisi jalan menuju ke air terjun ini sebagian belum diaspal, bahkan di beberapa bagian masih merupakan jalan setapak. Untuk sampai ke lokasi ini tersebut hanya dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan diperlukan sedikit ekstra tenaga karena kondisi medan yang masih alami.  Bagi yang membawa kendaraan roda empat hanya sampai di tempat parkiran.  Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak lebih kurang 500 meter atau 15 menit hingga tiba dilokasi air terjun berada. 

Bagi yang malas berjalan dapat menggunakan jasa ojek untuk menuju ke sana dengan ongkos sekitar Rp 10000.  Keberadaan ojek banyak di temui di parkiran atau di depan jalan tanah setapak menuju ke air terjun.  
 

CANDI LOR NGANJUK JAWA TIMUR

CANDI LOR NGANJUK JAWA TIMUR


Candi Lor merupakan bangunan candi yang terbuat dari batu bata merah yang diyakini sebagai monumen cikal bakal berdirinya kabupaten Nganjuk yang diperingati setiap tanggal 10 April setiap tahunnya.
Dari prasasti Anjuk Ladang, diketahui bahwa Mpu Sindok, raja Mataram Hindu yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai pertanda penetapan kawasan Anjuk Ladang (kemudian nama ini menjadi "Nganjuk") sebagai kawasan swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan.
Pada areal Candi Lor terdapat dua makam abdi dalem kinasih Mpu Sindok yang disebut Eyang Kerto dan Eyang Kerti, dan sebatang pohon kepuh yang telah tumbuh sejak tahun 1866, diketahui dari tulisan Hoepermans.

CANDI NGETOS NGANJUK JAWA TIMUR

CANDI NGETOS NGANJUK JAWA TIMUR


Candi Ngetos adalah Candi Hindu yang berada di Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur. Candi ini didirikan pada abad ke-15 pada zaman kerajaan Majapahit.

Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk. Bangunannya terletak ditepi jalan beraspal antara Kuncir dan Ngetos. Menurut para ahli, berdasarkan bentuknya candi ini dibuat pada abad XV (kelimabelas) yaitu pada zaman kerajaan (Majapahit). Dan menurut perkiraan, candi tersebut dibuat sebagai tempat pemakaman raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Bangunan ini secara fisik sudah rusak, bahkan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.

Berdasarkan arca yang ditemukan di candi ini, yaitu berupa arca Siwa dan arca Wisnu, dapat dikatakan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Kalau dikaitkan dengan agama yang dianut raja Hayam Wuruk, amatlah sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu. Menurut seorang ahli (Hoepermas), bahwa didekat berdirinya candi ini pernah berdiri candi berukuran lebih kecil (sekitar 8 meter persegi), namun bentuk keduanya sama. N.J. Krom memperkirakan bahwa bangunan candi tersebut semula dikelilingi oleh tembok yang berbentuk bulat cincin.
Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Atapnya diperkirakan terbuat dari kayu(sudah tidak ada bekasnya). Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut :
Panjang candi (9,1 m)
Tinggi Badan (5,43 m)
Tinggi keseluruhan (10 m)
Saubasemen (3,25 m)
Besar Tangga Luar (3,75 m)
Lebar Pintu Masuk (0,65 m)
Tinggi Undakan menuju Ruang Candi (2,47 m)
Ruang Dalam (2,4 m).


Relief pada Candi Ngetos terdapat empat buah, namun sekarang hanya tinggal satu, yang tiga telah hancur. Pigura-pigura padasaubasemennya (alasnya) juga sudah tidak ada. Di bagian atas dan bawah pigura dibatasi oleh loteng-loteng, terbagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat, tepinya tidak rata, atau menyerupai bentuk banji. Hal ini berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedankan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun.

Di sebelah kanan dan kiri candi terdapat dua relung kecil yang di atasnya terdapat ornamen yang mengingatkan pada belalai makara. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ternyata suatu bentuk spiral besar yang diperindah. Dindingnya terlihat kosong, tidak terdapat relief yang penting, hanya di atasnya terdapat motif daun yang melengkung ke bawah dan horisaontal, melingkari tubuh candi bagian atas.
Yang menarik, adalah motif kalanya yang amat besar, yaitu berukuran tinggi 2 x 1,8 meter. Kala tersebut masih utuh terletak disebelah selatan. Wajahnya menakutkan, dan ini menggambarkan bahwa kala tersebut mempunyi kewibawaan yang besar dan agaknya dipakai sebagai penolak bahaya. Motif kala semacam ini didapati hampir pada seluruh percandian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Motif ini sebenarnya berasal dari India, kemudian masuk Indonesia pada Zaman Hindu. Umumnya, di Indonesia motif semacam ini terdapat pada pintu-pintu muka suatu percandian.

ARCA CANDI

Di Candi Ngetos sekarang ini tidak didapati lagi satu arcapun. Namun menurut penuturan beberapa penduduk yang dapat dipercaa, bahwa di dalam candi ini terdapat dua buah arca, paidon (tempat ludah) dan baki yang semuanya terbuat dari kuningan. Krom pernah mengatakan, bahwa di candi diketemukan sebuah arca Wisnu, yang kemudian disimpan di Kediri. Sedangkan yang lain tidak diketahui tempatnya. Meskipun demikian bisa dipastikan bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-Wisnu, walaupun mungkin peranan arca Wisnu disini hanya sebagai arca pendamping. Sedangkan arca Siwa sebagai arca yang utama. Hal ini sama dengan arca Hari-Hara yang terdapat di Simping, Sumberjati yang berciri Wisnu.

Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak itu, dibangun atas prakarsa raja Hayam Wuruk. Tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenasahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin dimakamkan di situ karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahit yang menghadap Gunung Wilis, yang seakan-akan disamakan dengan Gunung Mahameru. Pembuatannya diserahkan pada pamannya raja Ngatas Angin, yaitu Raden Condromowo, yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwotoo. Raja ini mempunyai seorang patih bernama Raden Bagus Condrogeni, yang pusat kepatihannya terletak disebelah barat Ngatas Angin, kira-kira berjarak 15 km.

Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan yang bernama Hayam Wuruk yang menjadi Raja diMajapahit. Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Wasiatnya kemudian, nanti ketika Hayam Wuruk wafat, jenasahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Namun bukan pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Konon ceritanya pula, di Ngetos dulu terdapat dua buah candi yang bentuknya sama (kembar), sehingga mereka namakan Candi Tajum. Hanya bedanya, yang satu lebih besar dibanding lainnya. Krom juga berpendapat, bahwa disekitar candi Ngetos ini terdapat sebuah Paramasoeklapoera, tempat pemakaman Raja Hayam Wuruk. Mengenai kata Tajum dapat disamakan dengan Tajung, sebab huruf “ng” dapat berubah menjadi huruf “m” dengan tanpa berubah artinya. Misalnya Singha menjadi Simha dan akhirnya Sima. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekmono yang menyatakan bahwa setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, maka makamnya diletakkan di Tajung, daerah Berbek, Kediri.

Selanjutnya diceritakan, bahwa Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelas digantikan oleh Klono Joyoko. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian. Raden Ngabai Selopurwoto di kompleks Ngatas Angin menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos. Karena kesaktiannya maka dalam waktu yang tidak terlalu lama tugas tersebut dapat diselesaikan sesuai petunjuk.