Jumat, 15 Desember 2017

MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA Abad Ke-19, Bali

MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA Abad Ke-19, Bali





Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA RATU KERAJAAN SINGARAJA
Era : Abad ke-19
Asal : Singaraja, Bali
Material : Emas dan Batu Mulia

Koleksi :
THE MUSEUM OF FINE ARTS, HOUSTON
1001 Bissonnet Houston, Texas 77005

Data Museum :

ROYAL COURT OF SINGARAJA, BALI
Indonesia
Crown
Late 19th century
Gold, rubies, sapphires, and diamonds
6 x 10 1/4 x 8 inches

The Museum of Fine Arts, Houston
Gift of Alfred C. Glassell, Jr.
Department of the Arts of Africa, Oceania, & the Americas Arts of the South Pacific

ABOUT
In the 19th century, the royal courts of Bali enjoyed great prosperity and hosted numerous ceremonies and rituals. To assert their right to rule, and to glorify the gods, rulers commissioned artists to create objects of the highest quality. This elegant queen’s crown from the court of Singaraja is fashioned in pure gold with diamonds, rubies, and sapphires. Delicate flowers in gold leaf suspended on thin metal wires and springs shimmer with movement.

Bali is an Indonesian island small in size but rich in adornment. Its artistic tradition descends from older Javanese styles and the ornate Hindu style of India. As in most cultures of Indonesia, gold was believed to be empowered and able to cause both good and evil. It was also valued as a symbol of high status. This rare crown may have been commissioned as part of a larger set of royal adornment by King Gusti Agung Gede Agung in 1890 for an important wedding ceremony. Almost all of the artworks in the set are made of pure gold, evidence of great wealth.

Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.

“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”.

MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG) BALI

MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG) BALI




Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KERAJAAN BADUNG (GELUNG AGUNG)
Asal : Badung, Bali
Material : Emas, Batu Mulia dan Batu Permata

Koleksi :
MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah)
Jalan Medan Merdeka Barat no.12,
Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110
INDONESIA

Ini adalah perhiasan kepala yang sangat indah berasal dari istana kerajaan Badung – Bali. Mahkota ini dikenakan pada acara-acara upacara penting, antara lain oleh pengantin pada pernikahan kerajaan. Hal ini juga dapat dikenakan oleh penari pilihan dari istana saat melakukan tarian gambuh. Sementara bagian depannya dihiasi dengan berbagai bunga logam kecil, bagian belakang berbentuk gelung agung, yang berbentuk segitiga dan menampilkan tiga segitiga kecil dihiasi dengan 175 batu permata, ukiran kepala gajah, serta asti karang (batu khusus) yang diyakini memiliki kekuatan gaib untuk mengusir kejahatan, sama spektakulernya dengan keindahan yang dipancarkannya. Jadi, ketika penari gambuh menghadap ke belakang membelakangi penonton, penonton disuguhi tampilan yang menakjubkan dari keindahan maha karya ini.




sumber : https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/04/12/1410/

MAHKOTA KERAJAAN KUTAI KARTANAGARA ABAD 19

MAHKOTA KERAJAAN KUTAI KARTANAGARA

Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KERAJAAN KUTAI KERTANEGARA
Asal : Kutai, Kalimantan Timur
Material : Emas dan Batu Permata

Koleksi :
MUSEUM NASIONAL INDONESIA (Museum Gajah)
Jalan Medan Merdeka Barat no.12,
Jakarta Pusat, DKI JAKARTA 10110
INDONESIA

Ini adalah Ketopong (mahkota) yang dibuat pada pertengahan abad ke-19, ketika itu masa pemerintahan Sultan Muhammad Sulaiman (1845-1899), karya agung ini dibuat oleh seniman lokal dan tukang emas dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Mahkota ini merupakan salah satu simbol paling penting dari keberadaan kerajaan, dibentuk sebagai brunjungan, dan membutuhkan hampir dua kilogram emas untuk penciptaannya.




sumber :https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2012/04/12/1413/

MAHKOTA MAHA RAJA AIRLANGGA ABAD 10 M

MAHKOTA MAHA RAJA AIRLANGGA ABAD KE 10 M

Mahkota Kerajaan KAHURIPAN – Abad Ke 10
Jenis : Mahkota Kerajaan
Nama : MAHKOTA KERAJAAN KAHURIPAN
Asal : Jawa Timur
Era : Perkiraan abad ke-10
Material : Emas dan Batu Mulia

Elemen khas yang dimiliki oleh Kerajaan KAHURIPAN (Jawa Timur), terlihat jelas : Garudamukha. Kerajaan KAHURIPAN didirikan oleh AIRLANGGA, beribukota di Wwtan (berubah menjadi Wotan Mas di era Majapahit dan menjadi Wotan Mas Jedong pada saat ini) yang terletak di lereng Gunung PAWITRAN atau disebut juga Gunung PENANGGUNGAN. Sepeninggal AIRLANGGA, kerajaan dibagi dua : Kerajaan DAHA dan Kerajaan JENGGALA.

SEDANG DILELANG SECARA TERBUKA VIA INTERNET

Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.

“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”.



sumber  :https://wilwatiktamuseum.wordpress.com/2011/12/29/mahkota-nusantara-mahkota-abad-ke-10-era-kerajaan-kahuripan/

MAHKOTA MATARAM KUNO ABAD KE 7 M.

MAHKOTA MATARAM KUNO ABAD 7 M

Jenis : Mahkota Kegamaan
Nama : MAHKOTA KEAGAMAAN BUDHA
Asal : Jawa Tengah
Era : Perkiraan abad ke-7, Era Mataram Kuno
Material : Emas dan Batu Permata
Disebut juga USNISHA, adalah perangkat yang dipakai untuk upacara keagamaan BUDHA.
Koleksi :
Yale University Art Gallery
1111 Chapel St (btwn York and High), New Haven,
CT 06511 – USA
2008.21.109, 123856
Old Javanese Gold: The Hunter Thompson Collection
March 25–August 14, 2011
In the early centuries of the Common Era, a civilization rose up in Indonesia that became a locus of trade, culture, and religion, the most impressive traces of which were found on the island of Java. Ancient Javanese artifacts in gold display exceptional skill and artistry and are a significant source of information on aspects of Javanese society, culture, religion, economy, and technology. Old Javanese Gold: The Hunter Thompson Collection presents a selection of around 200 objects from the Hunter Thompson Collection, one of the founding donations to the Gallery’s new Department of Indo-Pacific Art, including jewelry, sculptures, coins, statues, containers, and accessories.
In conjunction with this installation, the Gallery is pleased to republish the classic 1990 publication Old Javanese Gold, by John Miksic, which will be available in May.
Installation made possible by Thomas Jaffe, B.A. 1971; James H. Slater, B.A.1944; and an endowment created with a challenge grant from the National Endowment for the Arts.
Image: Crown Top or “Usnisha” Cover, Javanese, 650–1000. Gold. Yale University Art Gallery, Gift of Valerie and Hunter Thompson



Janganlah ditangisi bila artefak sejarah kita dimiliki Kolektor dan Museum ASING, mungkin itu dijarah saat masa penjajahan atau dijual orang kita sendiri atau bahkan anak keturunan yang sedang membutuhkan uang.
“AMATI DENGAN SEKSAMA, TANGKAP AURA-NYA. DAN CIPTAKAN YANG LEBIH INDAH DARI ITU. MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BISA MENJARAH BAKAT DAN KELUHURAN YANG DIWARISKAN LELUHUR KITA”.



sumber : http://perjuanganislami.blogspot.co.id/2014/01/mahkota-keagamaan-budha-mataram-kuno.html

4 PUSAKA MAJAPAHIT ADA DI MUSEUM AMERIKA

4 PUSAKA MAJAPAHIT ADA DI MUSEUM AMERIKA

Pataka peninggalan Kerajaan Majapahit yang seharusnya tetap ada di negara kita sendiri.

PATAKA SANG DWIJA NAGA NARESWARA

Info MajapahitPataka Sang Dwija Naga Nareswara dari Kerajaan Majapahit ini berbentuk Tombak Pataka Nagari sebagai perwujudan dari Naga Kembar penjaga Tirta Amertha, terbuat dari bahan tembaga. Tombak  Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Merupakan satu-satunya tombak pataka Singhasari yang mampu diselamatkan oleh SANGRAMA WIJAYA pada saat keruntuhan Kerajaan Singhasari akibat serbuan Kerajaan Gelang-gelang. Pataka lainnya berhasil dikuasai dan diboyong oleh Raja Jayakatwang ke Kerajaan Gelang-gelang.
Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang bendera Kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ketika di proklamirkan di hutan Tarikh (setelah penyerbuan pasukan Tartar dan pasukan SANGRAMA WIJAYA atas Kerajaan Gelang-gelang). Bendera tersebut bernama : Gula – Kelapa (Merah – Putih), yang sekarang kita warisi menjadi Bendera Sang Saka Merah Putih.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Nagas and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper Alloy
Dimensions: H.17 1/4 in. (43.8 cm); W. 9 3/4 in. ( 24.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Bequest of Samuel Eilenberg, 1998
Accession Number: 2000.284.29a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, sebab Amerika Serikat tidak mempunyai benang merah sejarah dengan bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).

Tombak Sang Dwija Naga Nareswara ini sepertinya pernah di singgung dalam prasasti tahun 1305 AD bagian II  yang menjelaskan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardhana (Bhre Wijaya / pendiri kerajaan Majapahit). Dikatakan bahwa nama beliau terdiri dari 10 suku yang dapat dipecah menjadi empat kata yakni kerta, rajasa, jaya dan wardhana. Unsur kerta mengandung arti bahwa baginda memperbaiki pulau Jawa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh penjahat-penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat. Unsur rajasa mengandung arti bahwa baginda berjaya mengubah suasana gelap menjadi suasana terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap musuh-musuhnya. Unsur jaya mengandung arti bahwa baginda memiliki lambang kemenangan berupa senjata tombak berujung mata tiga (trisula muka) dan karena senjata tersebut segenap musuh hancur lebur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa baginda menghidupkan segala agama, melipat gandakan hasil bumi, terutama padi demi kesejahteraan rakyatnya. 


PATAKA SANG HYANG BARUNA 

Info MajapahitPataka Kerajaan Majapahit ini bernama Sang Hyang Baruna berupa sebuah tombak (Tombak Pataka Nagari) dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini terbuat dari bahan tembaga. Tombak Pataka ini di buat pada jaman Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan MAJAPAHIT (Wilwatikta). Pataka ini biasa dipasang di atas kapal yang memimpin sebuah rombongan ekspedisi, untuk menandai adanya seseorang diatas kapal tersebut yang bertindak mewakili Raja atau Negara. Bendera atau panji-panji yang dipasang bernama : “Getih – Getah Samudra” (lima garis merah dan empat garis putih), sebagai bendera armada militer SINGHASARI / MAJAPAHIT. Sampai saat ini bendera ini tetap dipakai oleh TNI-AL dalam kapal-kapal perangnya di perairan internasional, dengan nama panji-panji : “Ular-ular Tempur”.

Pataka ini pertama kali di bawa oleh pasukan ekspedisi PAMALAYU dan diserahkan kembali kepada Kerajaan Majapahit sebagai penerus dari Kerajaan Singhasari. Pataka ini telah berkiprah pada “Ekspedisi PAMALAYU (Singhasari)”, “Ekspedisi Duta Besar ADITYAWARMAN ke China (Majapahit)” hal ini dilakukan dua kali, “Ekspedisi NUSANTARA oleh GAJAHMADA (Majapahit)”. Dan tetap eksis hingga saat ini, dilanjutkan oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Tombak Pataka (Sang Hyang Baruna) ini sekarang berada di :

THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Halberd Head with Naga and Blades
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H.17 1/2 in. (44.4 cm); Gr. W. 8 1/4 in. (21 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1996
Accession Number: 1996.468a, b
This artwork is currently on display in Gallery 247

Satu hal yang amat mengganjal di hati (sebagai masyarakat pewaris Majapahit) adalah : Mengapa Pataka Majapahit ini sampai bisa berada di Amerika Serikat yang nota bene tidak memiliki hubungan kesejarahan dengan bangsa kita ?


Bendera Getih - Getah - Samudra

SANG PELOPOR DAN PENERUS PATAKA “SANG HYANG BARUNA”
Dalam menjalankan politik NUSANTARA (penyatuan seluruh kepulauan nusantara di bawah panji-panji Kerajaan Majapahit), terdapat 3 nama besar yang cukup disegani dalam pelaksanaannya.

Yang pertama adalah : ADITYAWARMAN (dengan pangkat tertingi Wredhamantri), adalah keluarga raja yang meniti kariernya di dunia militer sebagai penerus ayahandanya (keluarga Raja Singhasari) MAHESA ANABRANG yang bergelar ADWAYABRAHMA. Kedua-duanya dikenal tangguh di medan pertempuran, jago strategi dan ulet menjalankan misi diplomatik (MAHESA ANABRANG adalah pimpinan misi diplomatik ekspedisi PAMALAYU Singhasari ke Kerajaan DHARMASRAYA, jejak ini diikuti putranya : ADITYAWARMAN yang melakukan “mission imposible” dengan melakukan kunjungan diplomatik ke Kaisaran China. Padahal baru 2 dekade pasukan Tartar ini digempur dalam pertempuran tanah Jawa oleh Bhre WIJAYA, dan mereka sedang mempersiapkan gempuran balasan). Kehandalan ADITYAWARMAN sebagai duta-lah yang bisa menetralisir keadaan dan bahkan menemukan kesepahaman dalam hubungan diplomatik antar negara. Baik ayah dan anak ini ketika melakukan tugasnya : membawa Tombak Pataka SANG HYANG BARUNA.

Yang kedua dan ketiga adalah dua serangkai : Panglima Laut Rakarian Tumenggung MPU NALA dan Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA. Keduanya secara bahu-membahu menjalankan tugas penyatuan Nusantara dengan konsisten dibidangnya masing-masing. MPU NALA adalah generasi kedua panglima armada laut Kerajaan Majapahit, ayahandanya dikenal sebagai panglima laut yang memimpin rombongan pertama ekspedisi Pamalayu Singhasari menuju Kerajaan Tumasik (Singapura) di selat Malaka. Maka penunjukannya sebagai Panglima Laut di era pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI ini bersifat mutlak, mengingat banyak pelaut-pelaut yang dahulu mengabdi kepada ayahandanya telah bersumpah setia mendukung kepemimpinannya mengarungi samudra. Dikenal jago pertempuran laut dan pandai menyatukan pasukan laut yang berasal dari beberapa negara bawahan.

Mahapatih Amangkubhumi MPU MADA adalah tokoh kunci dari politik penyatuan Nusantara lewat SUMPAH PALAPA-nya. Seorang militer tulen yang memulai karirnya dari bawah sebagai bekel bhayangkara dan dikenal cerdas mempelajari ilmu pemerintahan. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh politik NUSANTARA Kerajaan Singhasari Raja SRI KERTANEGARA dan hal ini cocok dengan pemikiran Rani Majapahit (TRIBHUWANA TUNGGADEWI yang juga cucu dari SRI KERTANEGARA) yang mendapat pemahaman serupa dari ibundanya : DYAH AYU GAYATRI.

Keteguhan hati sang MPU MADA dalam mencapai cita-citanya diujinya sendiri dalam berbagai medan pertempuran pada separuh masa kehidupannya. Kemampuannya yang ulet, luwes sekaligus tegas dan tangguh telah mewariskan kepada kita wilayah Negara INDONESIA Raya yang luas ini.

Dalam menjalankan ekspedisinya, kapal panglimanya selalu membawa Tombak Pataka Sang Hyang BARUNA dan mengibarkan panji-panji kebesaran Majapahit (Getih - Getah - Samudra).

Rupanya perjalanan sejarah tersebut diabadikan secara konsisten oleh TNI-AL sebagai kekuatan maritim INDONESIA. Panji-panji Maritim Majapahit tetap dipakai hingga saat ini, bahkan GAJAHMADA dibuatkan monumennya di Markas Komando TNI-AL Surabaya. Keduanya baik MPU NALA maupun  MPU MADA, namanya diabadikan sebagai nama kapal perang : KRI. NALA dan KRI. GAJAHMADA.


PATAKA SANG PADMANABA WIRANAGARI

Tombak Pataka Nagari kerajaan Majapahit yang ketiga terbuat dari bahan tembaga bernama Sang Padmanaba Wiranagari (Teratai Kemuliaan Pembela Negeri). 
Info Majapahit
Tombak Pataka ini di buat di era Kerajaan SINGHASARI (abad 12 – 13 Masehi), dan diwarisi oleh Kerajaan WILWATIKTA (MAJAPAHIT). Adalah Pataka yang direbut kembali oleh para senopati Singhasari eks ekspedisi PAMALAYU di Kerajaan Jayakatwang Kediri. Pasukan ini merasa terluka hatinya dikarenakan kerajaan Singhasari diruntuhkan Jayakatwang ketika mereka tidak berada di tempat, sehingga tidak bisa membela negara. Ketika mereka pamit melakukan tindakan perebutan kembali pataka-pataka Singhasari sebagai wujud pengembalian kehormatan Singhasari kepada SANGRAMA WIJAYA sempat tidak diijinkan. Karena SANGRAMA WIJAYA masih trauma akan perang saudara yang baru saja dijalaninya (Raja JAYAKATWANG adalah sepupu SRI KERTANEGARA yang sekaligus besannya, dan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan SANGRAMA WIJAYA melalui kakeknya NARASINGAMURTI).

Kemudian para senopati ini nekat berangkat setelah berpamitan kepada Prameswari TRIBHUWANESWARI (yang juga putra pertama SRI KERTANEGARA dan istri SANGRAMA WIJAYA). TRIBHUNARESWARI tidak menjawab YA atau TIDAK, hanya bersabda : PENUHI DHARMAMU SEBAGAI KSATRYA. Dan ini yang menjadi legitimasi bagi para senopati ekspedisi PAMALAYU merebut kembali panji pataka peninggalan Singhasari yang ada di Daha.

Mereka akhirnya berhasil membawa pulang 5 (lima) panji Pataka Singhasari dan meneguhkan sikap para kerabat di wilayah Daha (yang masih bingung harus bersikap mengabdi kepada siapa), bahwa Majapahit adalah penerus Singhasari yang sah dan penerus Rajasawangsa.

Pada Tombak Pataka ini lah pertama kali di pasang Lambang Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Ada 4 (empat) kali perubahan lambang negara Majapahit yang pernah ditambatkan pada Pataka ini. Pada foto diatas adalah lambang kedua yang dipakai pada masa pemerintahan Rani TRIBHUWANA TUNGGADEWI dan Raja SRI RAJASANAGARA DYAH HAYAM WURUK, dimana Majapahit mengalami masa keemasannya. Mengenai keempat Lambang Negara Majapahit dapat anda lihat pada catatan yang lain. Semua Lambang Kerajaan (keempat-empatnya) bernama : SURYA WILWATIKTA. Banyak yang menyebutnya juga sebagai SURYA MAJAPAHIT.

Tombak Pataka ini sekarang berada di :

HE METROPOLITAN MUSEUM OF ATRT
1000 5th Avenue, New York, NY – USA

Dengan data museum sebagai berikut :

Top of a Scepter
Period: Eastern Javanese period, Singasari kingdom
Date: ca. second half of the 13th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Copper alloy
Dimensions: H. 16 1/16 in. (40.8 cm)
Classification: Metalwork
Credit Line: Samuel Eilenberg Collection, Gift of Samuel Eilenberg, 1987
Accession Number: 1987.142.184
This artwork is currently on display in Gallery 247

Hal ini cukup mengherankan saya, apa hubungan Amerika Serikat dengan sejarah bangsa Indonesia. Mungkin artefak ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikirim ke Eropa, baru kemudian berpindah tangan ke Amerika Serikat (???).


SANG HYANG NAGA AMAWABHUMI

Pataka Kerajaan Majapahit ke 4 berbentuk tombak naga berbahan tembaga yang dikenal dengan sebutan Sang Hyang Naga Amawabhumi yang artinya Naga Penjaga Keadilan. 

SUSUNAN PENGADILAN
Info Majapahit Semua keputusan dalam pengadilan di ambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi yang artinya : orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang jaman Majapahit) ditegaskan demikian : Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menetapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.

Dalam soal pengadilan Raja dibantu oleh dua orang dharmadhyaksa, yaitu Dharmadhyaksa Kasaiwan (kepala agama Siwa) dan Dharmadhyaksa Kasogatan (kepala agama Budha) dengan sebutan Dang Acarya. Karena kedua agama tersebut merupakan agama utama dalam Kerajaan Majapahit, maka segala perundang-undangan didasarkan kepada kedua agama tersebut.

Kedudukan Dharmadhyaksa dapat disamakan dengan Hakim Tinggi, mereka itu dibantu oleh lima orang upapatti yang artinya pembantu dharmadhyaksa. Mereka tersebut dalam beberapa piagam atau prasasti biasa disebut dengan sang pamegat atau disingkat samgat artinya sang pemutus alias hakim. Baik Dharmadhyaksa maupun Upapatti bergelar Dang Acarya. Pada mulanya terdapat lima Sang Pamegat yaitu Sang Pamegat Tirwan, Sang Pamegat Kandamuhi, Sang Pamegat Manghuri, Sang Pamegat Jambi dan Sang Pamegat Pamotan, kelimanya termasuk golongan Kasaiwan.

Pada masa pemerintahan Dyah Hayamwuruk, ditambah dengan dua orang upapatti dari golongan Kasogatan yaitu Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare, sehingga keseluruhan pejabat pengadilan ada dua orang dharmadhyaksa dan tujuh orang upapatti.

Demikian uraian kami tentang empat pataka Kerajaan Majapahit.





sumber  :  http://majapahitinfo.blogspot.co.id/2013/07/empat-pataka-kerajaan-majapahit.html

Kamis, 14 Desember 2017

RUMAH ADAT JAWA

RUMAH ADAT JAWA (JOGLO PANGGUNG)

Pada Dasarnya Rumah Adat Jawa Itu Adalah Rumah Panggung ,karna Menggunakan Umpak.(Batu untuk menyangga tiang tiang) /Rumah Adat Joglo panggung.Gambar di bawah ini adalah Contoh Rumah Adat jawa yang masih Menggunakan umpak.joglo Panggung.


masih menggunkan umpak.batu untuk menyangga tiang tiang.Rumah adat jawa yang menggunakan umpak ini masih banyak ditemui di jawa timur ,jawa tengah,dan jawa barat.
 Joglo Panggung Jawa
 Joglo Panggung Jawa
Joglo Panggung Jawa

lalu kemudian pada perkembangannya seiring kemajuanzaman modern,umpak tersebut di jadikan ubin atau lantai dasar seperti contoh rumah dibawah ini.



 fungsi umpak sudah digantikan menjadi lantai dasar seperti gambar dibawah ini